Pemprov DKI Tata 10 Ruas Jalan Lewat Proyek SJUT, Total 16,9 Kilometer Habiskan Rp90 Miliar

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mendorong penataan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kota sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kerapian ruang publik.

Pada 2026, penataan SJUT dilakukan di 10 ruas jalan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dengan total panjang mencapai 16,9 kilometer. Proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp90 miliar.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, penataan jaringan utilitas menjadi salah satu langkah pemerintah untuk membuat wajah Jakarta lebih tertata dan nyaman.

Pernyataan itu disampaikan Pramono saat meninjau pembangunan SJUT di Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, pembenahan utilitas perkotaan tidak hanya dilakukan untuk kepentingan infrastruktur, tetapi juga menjadi bagian dari penataan Jakarta dalam jangka panjang.

“Intinya adalah Pemerintah Jakarta dalam rangka memberikan atau menangani dan membuat Jakarta menjadi jauh lebih indah, lebih nyaman, lebih tertata, maka program ini kami canangkan untuk waktu yang lebih panjang,” ujar Pramono.

10 Ruas Jalan Jadi Sasaran Penataan

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengungkapkan, terdapat 10 ruas jalan yang masuk dalam program penataan SJUT tahun ini.

Kesepuluh lokasi tersebut yakni MT Haryono, Gatot Subroto, Soepomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara.

“ Ternyata panjangnya 16,9 kilometer,” kata Heru.

Untuk proyek SJUT di Jalan Soepomo, Tebet, pengerjaannya ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Penataan SJUT dilakukan untuk mengintegrasikan jaringan utilitas yang sebelumnya berada di ruang udara atau badan jalan ke dalam sarana jaringan utilitas terpadu. Dengan demikian, keberadaan jaringan utilitas diharapkan dapat menjadi lebih tertata.

Rekayasa Lalu Lintas Disiapkan

Pengerjaan proyek yang berlangsung di sejumlah ruas jalan juga berpotensi memengaruhi arus kendaraan. Karena itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk menyiapkan rekayasa lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.

Heru mengatakan, setiap kegiatan proyek yang menggunakan badan jalan dikoordinasikan bersama Dinas Perhubungan.

“Karena kami selalu berkoordinasi dengan Dishub. Jadi semua kegiatan kami yang ada di badan jalan, kami lakukan rekayasa lalu lintas bersama Dinas Perhubungan,” jelasnya.

Informasi mengenai rekayasa lalu lintas juga akan disampaikan melalui berbagai kanal informasi agar masyarakat dapat mengetahui ruas jalan yang terdampak dan mengantisipasinya dengan memilih jalur alternatif.

Penurunan Kabel Udara Jadi Tantangan

Sementara itu, Senior Manager Konstruksi PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Eryan Saputra menjelaskan, proses penataan SJUT juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam proses penurunan kabel udara ke jaringan yang lebih tertata.

Menurut Eryan, pekerjaan tersebut tidak sebatas memindahkan atau memasukkan jaringan kabel. PLN juga perlu menyiapkan panel-panel boks yang nantinya digunakan untuk mendistribusikan jaringan listrik kepada pelanggan.

“Kendala, ini sebenarnya ada beberapa aspek, Pak. Yang pertama terkait aspek keselamatan tadi. Karena untuk menurunkan ini tidak hanya kita menggelar SKTR-nya, tetapi kita juga harus membuat panel-panel boks untuk didistribusikan ke pelanggan-pelanggan,” jelasnya.

Saat ini, PLN masih melakukan uji coba panel-panel tersebut di sejumlah lokasi. Faktor keselamatan menjadi salah satu perhatian utama sebelum sistem tersebut diterapkan secara lebih luas.

Melalui penataan SJUT ini, Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembenahan utilitas dapat berjalan seiring dengan upaya menciptakan ruang kota yang lebih rapi, nyaman, dan tertata. (Sn)

Scroll to Top