Minyak Menembus $100 Akibat Timur Tengah Memanas, Picu Kekhawatiran Inflasi

Harga Minyak Naik
Harga Minyak Naik

New York | EGINDO.co – Harga minyak acuan internasional Brent melonjak hingga melampaui US$100 per barel pada hari Rabu (9 September)—kali pertama sejak akhir Juli—menyusul kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan kenaikan harga serta suku bunga.

Lonjakan harga minyak mentah—dengan Brent naik lebih dari 3 persen menjadi US$101,21 per barel—menyeret turun pasar saham karena investor khawatir bank-bank sentral utama akan menaikkan suku bunga guna meredam inflasi.

Di Wall Street, indeks Dow ditutup turun 0,8 persen.

Di seberang Atlantik, pasar Eropa juga melemah, dengan bursa Paris berakhir turun hampir 2 persen. Harga gas alam Eropa melonjak tajam ke level tertinggi sejak awal 2023, melampaui 80 euro per megawatt-jam, seiring upaya berbagai negara untuk mengisi kembali cadangan menjelang musim dingin.

Angka US$100 per barel untuk minyak mentah merupakan “tingkat psikologis yang penting bagi pasar” dan meningkatkan “biaya bagi dunia usaha maupun konsumen, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi,” ujar Kathleen Brooks, direktur riset di grup perdagangan XTB.

Kontrak minyak utama AS, West Texas Intermediate (WTI), naik hingga di atas US$96 per barel. Patrick O’Hare, kepala analis pasar di Briefing.com, menyebut “serangan balasan yang memicu ketegangan antara AS dan Iran” sebagai penyebab utama gejolak tersebut.

Harga rata-rata solar di Amerika Serikat mencapai rekor US$5,94 per galon, yang menambah tekanan domestik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan umum sela bulan November.

Semua mata tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis hari Jumat, yang dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan pekan depan.

“Lonjakan harga minyak tentu saja memicu kekhawatiran lebih lanjut mengenai inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata O’Hare.

Data inflasi yang sesuai dengan perkiraan, atau lebih tinggi dari antisipasi, akan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, kata analis Forex.com, Fawad Razaqzada.

Sebelum itu, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga zona euro pada hari Kamis.

Kekhawatiran inflasi telah mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seiring investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun melonjak pada hari Rabu ke tingkat tertinggi sejak 2023, meskipun Departemen Keuangan mengumumkan perluasan program pembelian kembali (*buyback*) obligasi.

Kenaikan ini terjadi di tengah upaya para pejabat untuk meredam lonjakan biaya pinjaman, namun rencana pembelian kembali tersebut justru mengecewakan para investor.

Pasar juga merasa khawatir akan eskalasi sengketa perdagangan antara Washington dan Ottawa, menyusul pengumuman pemerintahan Trump pada hari Selasa mengenai rencana larangan impor, termasuk terhadap produk minuman beralkohol.

Pada hari Rabu, Iran melancarkan serangan baru terhadap target-target AS di Timur Tengah sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap kapal tanker minyak Iran, yang semakin menyeret kedua pihak yang bermusuhan itu ke dalam kancah peperangan.

Pasukan Garda Revolusi Iran yang berpengaruh menyatakan telah menyerang 20 kapal AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz yang strategis—wilayah yang sebagian besar dikuasai oleh Iran sejak pecahnya perang.

Di luar perkembangan situasi perang, Apple meluncurkan ponsel lipat pertamanya pada hari Rabu. Saham perusahaan tersebut ditutup turun 0,3 persen.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top