Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga
MEMBACA warisan, memahami ruang hidup, dan menulis toba untuk hari ini dan masa depan. Danau Toba telah lama ditulis. Keindahan danau, kaldera, Pulau Samosir, tortor, ulos, rumah adat, legenda, kuliner, sejarah, serta kehidupan masyarakat telah melahirkan banyak cerita. Semua itu penting sebagai rekaman Toba sebagaimana adanya: apa yang terlihat, terdengar, diwariskan, dan berlangsung. Namun, menulis Toba tidak cukup berhenti pada apa yang tampak.
Dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjurmula-Mula, saya melihat Toba bukan sekadar bentang alam yang indah, melainkan ruang hidup tempat manusia, alam, sejarah, dan kebudayaan bertemu serta saling memengaruhi. Di dalam ruang itu terdapat gunung, air, tanah, hutan, kampung, pertanian, bahasa, sastra, marga, adat, arsitektur, seni, pengetahuan lokal, dan ingatan leluhur. Semuanya bukan benda yang berdiri sendiri. Ada hubungan yang membuatnya menjadi kehidupan.
Karena itu, sebelum menulis Toba, kita perlu melihat, meneliti, dan membaca. Membaca sumber, memeriksa fakta, mendengar masyarakat, memahami warisan, dan melihat perubahan yang terjadi. Jangan hanya melihat Toba lalu menulisnya. Lihatlah, telitilah, bacalah, pahamilah, barulah tuliskan.
Tulisan yang baik tidak lahir hanya dari apa yang dilihat, tetapi dari apa yang sungguh-sungguh dipahami. Maka pertanyaan penulis tidak cukup, “Apa yang dapat saya tulis tentang Toba?” Kita perlu bertanya: Apa yang sedang saya baca? Apa maknanya bagi manusia? Bagaimana hubungan manusia dengan ruang hidupnya? Apa yang berubah, apa yang terancam, dan apa yang patut dijaga serta diwariskan?
Di sinilah Membaca Batak, Merawat Toba menemukan maknanya. Membaca Batak berarti membaca bahasa, teks, konsep, adat, struktur sosial, sejarah, dan praktik kehidupan. Dari sana kita memahami bagaimana manusia membangun hubungan dengan sesama, leluhur, dan alam tempat kehidupannya bertumbuh. Dari sana pula kita dapat melihat bahwa warisan bukan sekadar sesuatu yang disimpan, melainkan sesuatu yang harus dipahami agar tetap memiliki kehidupan.
Karena itu, cara menulis pun dapat bergerak: MELIHAT → MENELITI → MEMBACA → MEMAHAMI → MEMAKNAI → MENULIS → MENGKRITISI → MERAWAT → MEWARISKAN.
Melihat memberi kesan. Meneliti menguji. Membaca membuka pengetahuan. Memahami menemukan hubungan. Memaknai menemukan nilai. Menulis mengungkapkan. Kritik membantu mengenali yang perlu diperbaiki. Merawat menjadikan pengetahuan sebagai tanggung jawab. Mewariskan membuat kebaikan tetap hidup.
Dengan cara pandang itu, Geopark bukan sekadar objek tulisan, melainkan salah satu pintu untuk membaca Toba secara lebih utuh. Gunung, air, tanah, budaya, masyarakat, dan perubahan lingkungan dapat menjadi teks kehidupan yang mengajak kita berpikir lebih dalam.
Sebab, Toba bukan kekurangan cerita. Yang mungkin masih kita perlukan adalah cara membaca yang lebih luas dan lebih dalam untuk menemukan makna yang belum terungkap.
Di sinilah penulis mempunyai tanggung jawab. Tulisan yang baik tidak hanya membuat orang mengagumi Toba, tetapi membantu manusia menghargai sesamanya, memahami warisannya, menyadari persoalannya, dan terdorong merawat serta memulihkannya.
Toba adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang dipercayakan kepada manusia untuk dijaga, bukan sekadar dinikmati. Karena itu, pena pun mempunyai tanggung jawab moral: menulis dengan baik, benar, dan tepat; menghormati manusia; menghargai alam; serta mengajak tanpa menghakimi.
Mungkin inilah saatnya kita memperluas cara menulis Toba: dari sekadar mencatat apa yang ada, menuju memahami apa yang bermakna; dari menulis Toba sebagaimana adanya, menuju menulis Toba sebagaimana dibutuhkan hari ini dan layak diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Membaca Batak. Menulis Toba. Merawat dan Memulihkan Warisan. Dolok Pusuk Buhit, Sianjurmula-Mula.@
***
Penulis adalah pemerhati masalah sosial, budaya dan lingkungan hidup, berada di Samosir