Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
SEBELUM bangga menyebut “saya orang Batak”, kita perlu mengingat jati diri terdalam: kita milik Sang Pencipta. Dari sanalah karakter seharusnya lahir. Marga yang berkarakter melahirkan masyarakat yang kuat. Karena itu, tantangan terbesar Tano Batak hari ini bukan semata-mata dari luar, melainkan dari tatanan sosial dan etika kita sendiri.
- Dalihan Na Tolu: Jangan Menjadi Pajangan
Batakologi mencatat Dalihan Na Tolu bukan sekadar tata upacara, melainkan konstruksi relasi sosial yang menyangga kehidupan masyarakat Batak. S.P. Hutagalung dalam Pustaha Batak (1926) menyebutnya tolu sahundulan, tiga tungku penyangga kehidupan. Johan Heuken juga mencatatnya sebagai sistem relasi sosial yang menjaga keseimbangan masyarakat Batak.
Pertanyaannya: masihkah ia hidup dalam keseharian? Anak muda fasih bermedia sosial, tetapi semakin gagap berbahasa Batak. Umpasa diganti caption. Manat mardongan tubu kalah oleh unfollow. Elek marboru kadang baru diingat ketika jambar dibagikan.
Almarhum Raja Patik Tampubolon mengingatkan: “Molo so diulahon Dalihan Na Tolu, gabe so adong be hita. Alai molo diulahon, ingkon tu nasa ngolu, ndang holan di pesta.”
Jika Dalihan Na Tolu tidak dipraktikkan, kita kehilangan jati diri; jika dihidupi, ia harus hadir dalam seluruh kehidupan, bukan hanya di pesta. Ini bukan sekadar emosi. Ini persoalan sosiologis. Adat sedang kehilangan daya hidup di luar gedung pesta.
- Jangan Jadi Raja di Pesta
Ada yang dihormati karena usia, pangkat, kekayaan, atau kedudukan. Namun, Dalihan Na Tolu tidak mengukur ketokohan dari tingginya tempat duduk, melainkan dari kedalaman pengayoman. Dalihan Na Tolu harus dimulai dari dalam: manat mardongan tubu, menjaga persaudaraan; elek marboru, menghidupkan pengayoman; lalu somba marhula-hula, memberi penghormatan.
Dari sanalah etika bergerak keluar. Hagabeon, hasangapon, dan hamoraon harus ditempuh melalui hamajuon—kemajuan yang beretika. Tanpa etika, kehormatan menjadi kesombongan; tanpa pengayoman, kepemimpinan menjadi beban.
Karena itu, jangan berebut kursi dan nama, sementara Rumah Besar lupa dirawat.
Dalam terang Firman Tuhan, jabatan adalah amanah melayani, bukan kesempatan berkuasa. Soli Deo Gloria: kemuliaan bagi Tuhan, bukan nama pribadi.
- Memperbarui Ruma Bolon
Memperbarui berarti kembali ke akar, lalu maju. Pertama, Ruma Bolon Digital. Silsilah, bahasa, umpasa, sejarah, dan etika Dalihan Na Tolu perlu didokumentasikan dan diwariskan melalui ruang digital. Grup marga hendaknya menjadi ruang pembinaan iman, adat, dan literasi. Dari sana lahir Naposo Digital, penjaga nama baik dan masa depan marga.
Kedua, Sekolah Adat Berbasis Bukti. Ajarkan umpasa, silsilah, sejarah, dan etika Dalihan Na Tolu secara terstruktur kepada generasi muda, sekaligus menyegarkan pemahaman orang tua dan para tokoh. Jabatan adalah amanah pengayoman.
Ketiga, Untuk Tujuh Turunan. Setiap keputusan hari ini diuji dengan pertanyaan: “Apakah yang kita kerjakan sekarang akan menguatkan anak, cucu, dan cicit kita tujuh turunan ke depan?”
Agar mereka tetap dapat berkata “saya orang Batak”, bukan hanya karena marga, tetapi karena mampu mar-dongan tubu dengan manat, mar-boru dengan elek, mar-hula-hula dengan somba, serta hidup takut akan Tuhan.
Tembok sosiologi kita retak. Saatnya membangun: dengan data, dengan iman, dengan kerja. Jangan menjadi raja di pesta. Jadilah pengayom di rumah. Sebab ukuran Dalihan Na Tolu bukan seberapa meriah pesta, melainkan apa yang tetap hidup ketika pesta selesai.
Marga berkarakter melahirkan masyarakat Batak tangguh. Masyarakat Batak tangguh menguatkan Indonesia.@
***
Penulis adalah seorang Pegiat Lingkungan Basis Kebudayaan, bermukim di Dolok Pusuk Buhit