Menjemput Rindu di Tanah Haram, Thaif Gurun Arab Mulai Menghijau, Tanda Kiamat atau Fenomena Alam

Jalan dan pemandangan di Kota Thaif tampak hijau dijuluki "City of Roses" atau Kota Mawar dan keindahan flora. (Foto: Fadmin Malau)
Jalan dan pemandangan di Kota Thaif tampak hijau dijuluki "City of Roses" atau Kota Mawar dan keindahan flora. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

ANDAI hari ini, Anda berkesempatan mengunjungi Thaif di Arab Saudi, bisa saja berjalan-jalan di antara kebun mawar yang wangi atau menikmati secangkir teh hangat di atas bukitnya yang sejuk. Ya, hari ini akan tetapi berbeda dengan ribuan tahun lalu, Thaif di Arab Saudi tanah yang dibasahi darah suci dari seorang manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian bagi yang terbiasa membayangkan Arab Saudi itu sebagai hamparan gurun pasir yang gersang dan batu-batu hitam yang membara. Ternyata Kota Thaif membalikkan semua imajinasi itu. Kota Thaif yang berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, kini menjadi sebuah anomali visual yang memukau bagi setiap orang yang memandangnya. Kota Thaif kini hijau, subur dan dipenuhi oleh hamparan vegetasi yang menyejukkan mata.

Ketika menatap Thaif yang asri hari ini memberikan sudut pandang baru yang indah. Kehijauan kota Thaif seolah menjadi jawaban atas doa dan tetesan darah Rasulullah Muhammad SAW ribuan tahun yang lalu.

Pusat jajanan dengan berbagai jenis makanan di Kota Thaif yang terlihat asli dengan tanaman meskipun lokasinya di gurun. (Foto: Fadmin Malau)

Sabda Rasulullah SAW mengenai hal ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA yang artinya, “Tidak akan tiba hari kiamat hingga tanah Arab kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai-sungai.”

Hadist Rasulullah Muhammad SAW ini oleh para ulama menjelaskan bahwa kembalinya tanah Arab menjadi hijau dan subur adalah salah satu dari tanda-tanda datangnya hari kiamat. Namun secara ilmiah dan historis, Jazirah Arab pada zaman dahulu memang pernah menjadi wilayah yang subur, hijau, dan memiliki banyak aliran air sebelum akhirnya berubah menjadi gurun tandus.

Lalu muncul pendapat bahwa semuanya itu adalah fenomena alam yang menghijaunya sebagian kawasan gurun atau pegunungan di Arab Saudi seperti di Makkah atau Madinah disebabkan sering terjadi curah hujan yang tinggi dalam kurun waktu tertentu. Selain itu yang lebih penting dan fakta yang ada bahwa pemerintah Arab Saudi sangat gencar menjalankan program penghijauan masif seperti Saudi Green Initiative untuk menanam ratusan juta pohon.

Data yang ada menunjukkan bahwa keindahan tentang hijaunya Kota Thaif membuat surga pertanian di daratan tinggi Arab Saudi. Muncul julukan “Kebun Makkah” seperti lembah Mitna dan Shafa yang dipenuhi oleh terasering hijau yang rapi seakan kita di daerah tropis seperti Indonesia.

Ya, seperti di daerah tropis. Faktanya ada kebun buah yang melimpah di sepanjang jalan, tentu memanjakan mata dengan barisan pohon anggur yang merambat subur, pohon delima yang berbuah lebat, buah tin, hingga aprikot. Kehijauan itulah yang dahulu menjadi tempat bernaung Rasulullah Muhammad SAW di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah setelah diusir oleh penduduk Thaif.

Rancang bangunan jalur jalan raya utama di Thaif yang menghubungkan Makkah dan Thaif kawasan Al Hada. (Foto: Fadmin Malau)

Selain hijaunya dedaunan, Thaif terkenal dengan warna merah muda dari Mawar Thaif atau Ward Thaifi yang legendaris. Setiap musim semi, lereng-lereng gunung di Thaif berubah menjadi permadani bunga. Lebih dari 900 kebun mawar mekar bersamaan, menghasilkan jutaan kuntum bunga yang wangi aromanya tercium hingga ke sudut-sudut kota. Keindahan visual ini berpadu sempurna dengan hijau jalurnya perbukitan, menciptakan pemandangan yang magis.

Ada romansa spiritual yang sangat kuat saat kita memandang hijaunya Thaif. Kita tahu, Rasulullah Muhammad SAW pernah disambut dengan “batu yang kering dan keras” di kota Thaif, tubuh Rasulullah SAW terluka dan batin tersayat. Rasulullah Muhammad SAW mendoakan kebaikan untuk keturunan warga Thaif dan kini doa itu terkabul yakni yang dahulu tanah gersang diubah menjadi tanah subur, kota yang damai di jazirah Arab.

Kota Thaif berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut membangun sebuah lokasi rekreasi yang hijau. (Foto: Fadmin Malau)

Thaif bukan lagi sekadar kota yang menyimpan trauma sejarah. Hari ini, Thaif adalah simbol pemulihan, berkah, dan keindahan. Kehijauan alamnya yang sejuk seolah menjadi pelipur lara dari masa lalu, sekaligus pengingat bagi setiap peziarah bahwa setelah kesulitan dan ketabahan yang luar biasa, Allah selalu menyiapkan “taman-taman firdaus” yang indah sebagai balasannya.

Kota Thaif  di Arab Saudi memang sangat terkenal dengan tata kotanya yang memiliki banyak pulau jalan atau median jalan yang hijau, asri, dan dipenuhi tanaman. Berbeda dengan kota-kota di Indonesia yang masih gersang pada hal memiliki tanah yang subur.

Memang Pemerintah Arab Saudi secara masif menata kota dengan menanam ribuan pohon, rumput, dan bunga-bunga indah di sepanjang pembatas jalan utama yang disebut dengan program penghijauan yang selaras dengan Saudi Green Initative.

Program penghijauan Saudi Green Initiative menanam ratusan juta pohon dengan system penyiraman otomatis pada setiap pohon. (Foto: Fadmin Malau)

Faktor utama membuat pulau jalan dan pemandangan di Kota Thaif tampak hijau dengan adanya Pusat Bunga Mawar dan Hortikultura sehingga kota Thaif dijuluki “City of Roses” atau Kota Mawar dan keindahan flora itu diaplikasikan ke area pulau jalan dan taman-taman kota.

Secara geografis memang mendukung dimana kota Thaif berada pada ketinggian 1.700 hingga 2.000 meter diatas permukaan laut di lereng Pegunungan Sarawat, membuat curah hujan di Thaif lebih tinggi dan udaranya selalu sejuk.

Rancang bangunan jalan selaras dengan alam dimana jalur jalan raya utama di Thaif, terutama jalan berliku yang menghubungkan Makkah dan Thaif seperti kawasan Al Hada dirancang dengan pembatas jalan yang dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau untuk memanjakan mata para pengendara dan jemaah umroh dan haji yang berkunjung.

Melihat penataan pulau jalan dan jalan yang penuh tanaman sejenak kita lupa bahwa kita sedang berada di salah satu negara paling gersang di dunia sebab dikelilingi gurun. Boleh jadi ketika kita berada di Indonesia salah satu negara paling subur di dunia, berada di garis khatulistiwa merasa gersang sebab penataan pulau jalan dan jalan yang tidak terlihat tanaman.

Penulis berada di ruas jalan menghubungkan Makkah dan Thaif di kawasan Al Hada yang hijau

Keindahan, keasrian kota Thaif sejenak kita teringat lembaran sirah nabawiyah, dimana ribuan tahun lalu, di tanah yang sama, Rasulullah Muhammad SAW berjalan kaki dengan kaki yang terluka dan bersimbah darah. Rasulullah SAW datang membawa harapan, namun disambut dengan hujan batu dan caci maki yang kering lagi keras dari penduduknya. Namun, keajaiban terbesar dari Thaif bukanlah kesuburan tanahnya, melainkan keluhuran hati Nabi Muhammad SAW yang pernah berpijak di Kota Thaif. Ketika ditawarkan kesempatan untuk menghancurkan Kota Thaif beserta seluruh isinya, Nabi Muhammad SAW memilih untuk memaafkan dan mendoakan agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman. Allah SWT mengabulkan doa Nabi Muhammad SAW, itulah yang kini terlihat di Kota Thaif.

Pesan yang dibawa ketika melakukan perjalanan ke Thaif menyadarkan kita akan satu hal yakni alam sering kali menyimpan cerita yang lebih besar dari apa yang terlihat oleh mata kita. Pemandangan indah di Kota Thaif menjadi pelajaran hidup bahwa badai ujian dan rasa sakit yang dihadapi dengan kesabaran serta ketulusan, kelak akan bertunas menjadi taman-taman keberkahan yang menghijau dan membawa kedamaian bagi siapapun yang mengunjunginya.@

***

(Bersambung pada Jum’at pekan depan; Menjemput rindu di Tanah Haram…..)

Scroll to Top