Catatan: Fadmin Malau
MENJEMPUT rindu di tanah haram. Mengapa jemaah umroh melakukan kunjungan ke Thaif? Ada apa dengan Thaif. Jamaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan juga melakukan kunjungan ke Thaif.
Sesungguhnya kota Thaif yang ada sekarang tidak seperti kota Thaif pada zaman Rasulullah Muhammmad SAW. Kini kota Thaif kota yang indah, kota gurun yang hijau membuat semua orang terpesona dengan pesona gurun yang hijau. Kok bisa ya?
Faktanya begitu, bagi sebagian besar orang, perjalanan wisata ke Kota Thaif di Arab Saudi menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata. Lokasinya terletak sekitar 65 kilometer di tenggara kota Makkah. Kota Thaif adalah kota pegunungan atau jabal yang berdiri megah di jabal atau pegunungan Sarawat dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut.
Tentu saja udaranya sejuk, meskipun hawa gurun yang menyengat panas itu menjadi kontras. Udara panas yang tidak menyengat tubuh, tanpa keringat di tubuh dan tanahnya subur menghasilkan anggur, delima, serta mawar yang harum. Tentunya kesemuanya itu bagi para wisatawan (Pada tulisan tersendiri, penulis akan menyajikan tentang kota wisata Thaif)

Nah, akan berbeda dengan jamaah umroh atau bagi umat Islam yang datang ke kota Thaif. Tentunya jemaah umroh ingin napaktilas tentang perjalanan Rasulullah Muhammad SAW dalam menegakkan Islam. Kota Thaif menjadi monumen kesabaran tertinggi bagi Rasulullah Muhammad SAW melewati salah satu fragmen paling menyakitkan, sekaligus paling agung dalam seluruh catatan sirah nabawiyah.
Kala itu, pada Tahun Kesedihan atau Amul Huzni sebagai memahami makna Thaif bagi Rasulullah Muhammad SAW, atau pada waktu itu tahun ke-10 kenabian. Tahun itu tercatat dalam sejarah Islam sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Kesedihan karena dalam waktu yang berdekatan, dua orang yang disayangi dan juga pelindung utama Nabi Muhammad SAW wafat. Pertama adalah Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta yang selalu menjadi penenang jiwa, penopang finansial, dan orang pertama yang memercayai wahyu Ilahi.
Kedua adalah Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW yang disegani oleh kaum Quraisy dan selalu pasang badan atau selalu siap melindungi keponakannya dari intimidasi fisik dan faktanya kaum Quraisy tidak berani mengganggu Nabi Muhammad SAW meskipun Abu Thalib tidak memeluk agama Islam.
Faktanya memang terjadi ketika wafatnya dua figur itu membuat kaum kafir Quraisy di Makkah menjadi senang, merasa menang karena orang yang disegani sekaligus ditakuti kafir Quraisy sudah tiada. Tentunya langkah selanjutnya dapat melakukan tekanan, ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah Muhammad SAW.
Kondisi itu terjadi maka Rasulullah Muhammad SAW memutuskan berjalan kaki menuju Thaif bersama sahabatnya, Zaid bin Haritsah. Nabi melangkah ke Thaif bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mencari harapan baru, sebuah suaka dakwah dan dukungan dari Bani Tsaqif, penguasa Thaif saat itu.
Mencari harapan baru ternyata disambut dengan batu dan caci maki. Harapan yang dibawa Nabi Muhammad SAW dari Makkah ternyata berbenturan dengan kenyataan yang teramat pahit. Setibanya di Thaif, Rasulullah Muhammad SAW menemui tiga bersaudara pemimpin Bani Tsaqif yakni Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib.

Ternyata bukannya mendengarkan risalah Islam dengan santun, mereka justru melontarkan hinaan yang menyayat hati. Seorang dari mereka mengejek, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu untuk diutus?” Yang lain menimpali, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku akan merobek kain Kakbah!”
Tidak cukup dengan penolakan lisan, mereka mengusir Rasulullah Muhammad SAW secara hina. Mereka mengerahkan para budak, pemuda, dan orang-orang bodoh di Thaif untuk berdiri berjejer di sepanjang jalan, membentuk lorong kebencian. Ketika Nabi Muhammad SAW dan Zaid berjalan melewatinya, mereka menyoraki, mencaci-maki, dan melempari Rasulullah Muhammad SAW dengan batu.
Zaid bin Haritsah berusaha keras tameng hidup untuk melindungi tubuh Nabi Muhammad SAW hingga kepalanya terluka parah. Namun, lemparan batu itu tetap mengenai tubuh suci Rasulullah Muhammad SAW. Kaki Nabi Muhammad SAW bersimbah darah, hingga darah tersebut mengering dan merekatkan sandal ke kakinya dan Rasulullah Muhammad SAW berjalan terhuyung-huyung keluar dari kota Thaif dengan hati yang hancur dan tubuh yang terluka parah.
Dalam kondisi fisik yang lemah dan batin yang terguncang, Rasulullah Muhammad SAW dan Zaid berlindung di bawah naungan pohon anggur di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah atau dua bersaudara dari Makkah yang kebetulan sedang berada di Thaif. Di kebun yang sunyi itu, Rasulullah Muhammad SAW membersihkan luka-lukanya.
Nabi Muhammad SAW tidak menghiraukan rasa sakit di kakinya, akan tetapi khawatir apakah yang dialaminya karena Allah SWT murka kepadanya. Ketika itulah doa yang dicatat sejarah sebagai salah satu munajat paling menyentuh dan paling tulus yang pernah diucapkan seorang hamba:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang berwajah suram menerimaku, ataukah kepada musuh yang Engkau berikan kuasa atas urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan semua penderitaan ini). Namun, keselamatan dan afiat dari-Mu jauh lebih lapang bagiku…”
Doa Rasulullah Muhammad SAW ini menjadi pelajaran besar bagi umat Islam, memberikan ingatan kepada jamaah umroh bahwa sesungguhnya doa Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita bahwa dalam ujian seberat apa pun, standar keselamatan seorang mukmin bukan terletak pada bagaimana dunia memperlakukannya, melainkan pada rida Allah SWT.
Sesungguhnya sangat mudah bagi Allah SWT maka melihat penderitaan Nabi Muhammad SAW, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung (Malakul Jibal) dimana laksana langit ikut terluka melihat Nabi Muhammad SAW diperlakukan dengan kejam.
Malaikat Penjaga Gunung berseru kepada Nabi, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat Penjaga Gunung, dan Tuhanku telah mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkan kepadaku apa yang engkau inginkan. Jika engkau mau, aku akan timpakan kedua gunung (Gunung Akhsyabain) ini di atas mereka!”
Subhanallah, dengan suara lembut ditengah rasa sakit, Rasulullah Muhammad SAW menjawab: “Jangan. Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang rusuk (keturunan) mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Nabi menolak membalas kejahatan dengan kehancuran. Beliau memaafkan mereka yang melemparinya batu karena beliau tahu, mereka melakukan itu semata-mata karena ketidaktahuan (“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui”).
Bagaimana kalau kejadian itu ada pada kita? Datang bantuan untuk membalas dendam, pasti tawaran itu langsung kita diterima. Mantap, hancurkan!

Ya, tentu posisi itu ada pada manusia biasa yang memiliki rasa dendam membara, mendapat tawaran kekuasaan mutlak untuk menghancurkan orang-orang yang baru saja menyakiti kita tentu diterima seratus persen. Ya, manusia biasa. Berbeda dengan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil ‘Alamin atau rahmat bagi semesta alam yang menembus batas manusia biasa.
Untuk itu makna kota Thaif bagi umat Islam adalah sekumpulan makna dan pelajaran hidup yang tak akan pernah usang oleh waktu. Pertama kemenangan akhlak di atas ego dimana di kota Thaif menjadi bukti otentik bahwa misi utama Islam bukanlah penaklukan fisik atau balas dendam, melainkan menyelamatkan manusia.
Kedua Rasulullah Muhammad SAW melihat penduduk Thaif kala itu yang penuh dengan kebencian, melainkan melihat potensi generasi masa depan yang akan lahir dari rahim mereka. Doa Nabi Muhammad SAW dikabulkan Allah SWT beberapa tahun kemudian, Thaif tunduk dalam Islam dan melahirkan tokoh-tokoh besar pemuka Islam.
Ketiga, kota Thaif memiliki kisah memanusiakan perjuangan bahwa sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW juga pernah merasa lelah, sedih, dan mengadu. Artinya bagi kita umat Islam tidak dilarang menangis atau merasa lemah, selama aduan dan air mata kita itu tumpah di hadapan Allah SWT, bukan dipamerkan untuk mencari simpati manusia atau pencitraan sebagaimana yang kini banyak dilakukan para pemimpin negeri ini.@
***
(Bersambung Ahad akhir pekan; Menjemput rindu di Tanah Haram……)