Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
ADA lagu yang kita nyanyikan dengan suara. Ada pula lagu yang seharusnya kita nyanyikan dengan kehidupan, Mars Toga Sinaga adalah yang kedua.
Di dalamnya kita diajar tentang hasadaon: satu hati sebagai pomparan; somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru; menimbang dengan adil, memegang tali persaudaraan, merintis jalan di depan, dan menjadi panggomgomi bagi yang di belakang. Jika sungguh dihidupi, organisasi bukan gelanggang untuk saling mengalahkan. Ia adalah rumah parsantian.
Di rumah itu aspirasi, dukungan, pandangan, bahkan pilihan boleh berbeda. Tetapi persaudaraan tidak boleh berbeda.
Menjelang MUBES 2026, suara Cabang, Wilayah, Dewan Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, Dewan Pakar, para tua-tua, dan generasi muda hendaknya menjadi kekayaan musyawarah, bukan suara yang memecah rumah. Deklarasi adalah aspirasi. Dukungan adalah kepercayaan. Pilihan adalah hak. Namun semuanya tetap berada dalam aturan dan kewenangan parsadaan.
Jangan Biarkan Bayang-Bayang Kepentingan Membelah Rumah
Dalam perjalanan parsadaan, perbedaan adalah keniscayaan. Yang perlu dijaga ialah agar bayang-bayang kepentingan tidak memasuki rumah bersama dan menunggangi perbedaan untuk kepentingan politik, pribadi, atau kelompok.
Yang perlu disingkirkan bukan orangnya, melainkan cara dan kepentingan yang dapat membelah persaudaraan.
PPTSB bukan panggung kepentingan politik. PPTSB adalah rumah persaudaraan. Kita boleh berbeda pilihan tanpa menjadi berbeda sebagai saudara. Jika ada arah yang menyimpang, terangilah dengan aturan, keterbukaan, musyawarah, dan kebijaksanaan. Yang kita luruskan adalah jalannya, bukan menjatuhkan orangnya.
Pulang ke Rumah Parsantian
Ketika hati mulai panas, pulanglah. Mari lage-lage tiar: duduk menurut ordo, tahu menempatkan diri, tidak meninggikan diri, saling mendengar dan menjaga.
Bayangkan parsonduk bolon terhidang. Dengan tangan yang melayani dan hati penuh kasih, ompung boru Sinaga menyajikan hidangan kesukaan Ompung Toga Sinaga, mengingatkan kita pada kasih Ompung Boru Malau, yang dahulu merawat Toga Sinaga dengan kehangatan seorang ibu.
Parsonduk bolon bukan sekadar hidangan. Ia bahasa kasih: menghangatkan hati, melunakkan kata, dan memanggil kita pulang kepada akar persaudaraan. Di sana kita tidak duduk sebagai kubu. Kita duduk sebagai saudara.
Kembali kepada Jiwa Ompung Paltiraja
Dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan, Ompung Paltiraja menimbang dengan jernih, mendengar dengan hati, lalu mencari jalan yang dapat diterima bersama. Jiwanya tercermin dalam poda: “Parhatian sibola timbang, paninggala sibola tali; tu ginjang so ra monggal, tu toru so ra teleng.”
Menimbang dengan adil, memegang tali persaudaraan, tidak meninggikan diri ketika di atas dan tidak merendahkan diri ketika di bawah. Itulah jalan kearifan: mengikat yang tercerai, menghormati yang di depan, merangkul yang di belakang.
Maka jangan pertama-tama bertanya, “Siapa yang menang?” Tanyakan: “Bagaimana agar Toga Sinaga tidak kalah?”
Jangan bertanya siapa yang lebih kuat, tetapi bagaimana persaudaraan lebih kuat daripada kelompok. Jangan hanya mencari siapa yang pantas memimpin, tetapi carilah cara memilih yang pantas bagi sebuah parsadaan.
Pemimpin yang baik bukan hanya mampu berdiri di depan; ia mampu merintis jalan tanpa meninggikan diri dan menjadi panggomgomi ketika berada di belakang. Dari Lagu Menjadi Jalan Hidup
Biarlah Mars Toga Sinaga bergerak:
dari lagu menjadi nilai,
dari nilai menjadi sikap,
dari sikap menjadi budaya,
dari budaya menjadi karakter,
dan dari karakter menjadi warisan.
Ketika kita menyanyikan:
“Horas ma Sinaga, horas nang boruna, horas saluhutna, horas ma sude,”
biarlah suara itu hidup dalam hati dan terbukti dalam perbuatan. Sebab yang harus menang bukan aku, bukan engkau, bukan kelompok ini atau kelompok itu.
Yang harus menang adalah hasadaon. Yang harus tetap utuh adalah persaudaraan.
Maka mari pulang ke rumah parsantian. Duduk di lage-lage tiar. Menimbang, mendengar, bermusyawarah, bermufakat. Sebab keputusan yang baik bukan hanya menyelesaikan persoalan, tetapi membuat saudara tetap menjadi saudara. Toga Sinaga maju terus. Mejuah-juah. Horas!
***
Penulis adalah Wilmar Eliaser Simandjorang pemerhati masalah budaya dan sosial dan ditulis di Dolok Pusuk Buhit, 4 September 2026