Singapura & Thailand Sepakati Perjanjian Kerja Sama Pembangunan Sektor Sosial

PM Lawrence Wong dengan PM Anutin Charnvirakul
PM Lawrence Wong dengan PM Anutin Charnvirakul

Bangkok | EGINDO.co – Singapura dan Thailand menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada hari Rabu (2 September) untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan sektor sosial.

Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Masagos Zulkifli, dan Menteri Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia Thailand, Nikorn Soemklang.

Berdasarkan MoU ini, kerja sama akan mencakup lima bidang, termasuk pertukaran personel antarlembaga terkait serta pertukaran pengetahuan dan penelitian mengenai kebijakan dan program kesejahteraan sosial.

Kerja sama ini juga akan mencakup kunjungan ke lembaga layanan sosial dan kegiatan peningkatan kapasitas bersama, seperti lokakarya dan pelatihan.

Singapura dan Thailand juga dapat bekerja sama di bidang lain yang disepakati bersama yang melibatkan perempuan, keluarga, serta kesejahteraan dan pembangunan sosial.

Dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan bahwa konektivitas yang ingin dicapai oleh kedua negara bergantung pada hubungan antarwarga kedua negara.

“Kami akan terus mendorong hubungan antarwarga yang lebih erat, termasuk di kalangan pegawai negeri dan peneliti kami,” ujarnya.

“MoU mengenai kerja sama pengembangan sektor sosial yang baru saja kami tandatangani juga akan memungkinkan kami untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dan menemukan solusi baru bersama-sama.”

Pertemuan Puncak Pemimpin Pertama Dalam Lebih Dari Sedekade

Kesepakatan tersebut ditandatangani saat Pertemuan Puncak Pemimpin (Leaders’ Retreat) Singapura-Thailand di Bangkok pada hari Rabu, yang merupakan pertemuan pertama antara Bapak Wong dan Bapak Anutin.

Pertemuan ini juga menandai dihidupkannya kembali format Pertemuan Puncak Pemimpin setelah sempat vakum selama lebih dari satu dekade. Pertemuan sebelumnya diselenggarakan di Singapura pada tahun 2015.

Bapak Wong menyatakan kegembiraannya karena kedua negara telah menghidupkan kembali wadah pertemuan ini, yang memungkinkan mereka untuk meninjau hubungan bilateral, membahas isu-isu kepentingan bersama, dan merancang langkah ke depan.

Ia menggambarkan hubungan bilateral kedua negara dalam kondisi “sangat baik”, yang didasari oleh tingkat kepercayaan dan hubungan yang harmonis di tingkat pimpinan, serta ikatan kelembagaan yang kuat.

Para menteri dan pejabat dari kedua belah pihak juga bekerja sama erat melalui wadah yang telah ada, seperti *Singapore-Thailand Enhanced Economic Relationship* (Hubungan Ekonomi yang Ditingkatkan Singapura-Thailand) dan Program Pertukaran Pegawai Negeri Sipil, tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin meninjau kemajuan di bidang-bidang yang telah disepakati untuk diperkuat kerja samanya saat kunjungan Bapak Anutin ke Singapura bulan November lalu, termasuk ketahanan pangan dan energi, ekonomi digital, serta penanganan kejahatan lintas negara. Wong mengatakan diskusi mereka berfokus pada upaya mengubah prioritas bersama ini menjadi “proyek-proyek konkret”.

Kerja Sama di Bidang Pangan, Energi, dan AI

Terkait ketahanan pangan, Wong menyatakan bahwa Singapura dan Thailand sedang menjajaki penguatan rantai pasok pangan dengan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara produsen dan pedagang pangan.

Pada bulan November, kedua negara menyepakati perjanjian perdagangan beras yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan Singapura sekaligus memperluas peluang ekspor bagi para petani Thailand.

Kolaborasi yang lebih erat akan memanfaatkan kekuatan Thailand sebagai produsen pangan utama serta peran Singapura sebagai pusat logistik dan perdagangan, tambahnya.

Kedua negara juga berupaya memperkuat ketahanan energi melalui berbagai inisiatif, seperti jaringan listrik ASEAN dan kerja sama terkait kredit karbon.

Teknologi baru yang sedang berkembang, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi topik pembahasan lain dalam pertemuan tersebut.

Wong mengatakan kedua negara sedang berinvestasi dalam AI dan mencari cara untuk menerapkan teknologi tersebut secara lebih luas dalam perekonomian masing-masing.

Ia menyebut sektor manufaktur, layanan kesehatan, dan pariwisata sebagai bidang di mana Singapura dan Thailand dapat bekerja sama dalam penerapan praktis AI. Kedua belah pihak juga dapat berbagi pengalaman mengenai penerapan AI secara aman dan bertanggung jawab, sembari mendorong inovasi dan adopsi teknologi tersebut, ujarnya.

Konektivitas Yang Lebih Erat

Kedua negara juga membahas upaya memperkuat konektivitas fisik dan digital.

Wong mengatakan Singapura dapat menjadi “mitra alami” dalam rencana Thailand untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan dan logistik regional, dengan merujuk pada kapabilitas perusahaan-perusahaan Singapura seperti operator pelabuhan PSA.

Terkait konektivitas digital, Singapura dan Thailand memelopori integrasi PromptPay-PayNow pada tahun 2021, yang merupakan integrasi pertama di dunia antara dua sistem pembayaran *real-time* nasional.

Langkah selanjutnya adalah menjalin koneksi dengan lebih banyak negara melalui kerangka kerja multilateral bersama, ujar Bapak Wong. Kedua belah pihak juga akan mengidentifikasi peluang baru bagi perusahaan untuk berkolaborasi di bidang *fintech* dan ekonomi digital secara lebih luas.

Para pemimpin tersebut juga membahas perkembangan regional dan internasional; Bapak Wong menggambarkan Singapura dan Thailand sebagai mitra yang memiliki kesamaan pandangan serta kepentingan bersama dalam mewujudkan “ASEAN yang kuat dan bersatu”.

Singapura akan memegang keketuaan organisasi regional tersebut pada tahun 2027, disusul oleh Thailand pada tahun 2028.

Bapak Wong menyatakan bahwa masa keketuaan yang berurutan ini menghadirkan “peluang unik” bagi kedua negara untuk bekerja sama dalam berbagai inisiatif yang memerlukan upaya berkelanjutan selama beberapa tahun.

Ia dan Bapak Anutin sepakat agar tim mereka menyusun agenda multi-tahun guna membangun kesinambungan dan momentum dari satu masa keketuaan ASEAN ke masa keketuaan berikutnya.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top