Kemendag Perkuat Diversifikasi Ekspor di Tengah Lonjakan Impor

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah terus berupaya menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia dengan memperkuat ekspor ke pasar utama sekaligus memperluas tujuan ekspor ke pasar-pasar baru. Strategi ini dinilai semakin penting karena pertumbuhan impor masih jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih membukukan surplus sebesar US$121,9 juta. Nilai ekspor mencapai US$26,22 miliar, tumbuh 6,05% secara tahunan, sedangkan impor meningkat lebih tajam sebesar 27,02% menjadi US$26,09 miliar.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi mengatakan surplus tersebut menjadi sinyal positif yang perlu dipertahankan hingga penghujung tahun.

Menurutnya, pemerintah tidak hanya akan mengandalkan pasar ekspor yang selama ini menjadi tujuan utama, tetapi juga mendorong diversifikasi produk dan membuka akses ke pasar baru. Penguatan daya saing, kualitas, inovasi, serta nilai tambah produk nasional menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Kemendag juga mengoptimalkan berbagai kerja sama perdagangan internasional, mulai dari Preferential Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement (FTA), hingga Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Berbagai kesepakatan itu diharapkan dapat dimanfaatkan lebih maksimal oleh eksportir Indonesia untuk memperoleh keuntungan tarif dan akses pasar.

Selain kebijakan perdagangan, peran perwakilan dagang Indonesia di luar negeri juga terus diperkuat. Mereka bertugas mencari peluang pasar, memetakan kebutuhan konsumen, serta menghubungkan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemendag Ni Made Kusuma Dewi menambahkan, surplus Juli menunjukkan ekspor Indonesia masih berada dalam tren positif. Namun, pemerintah tetap perlu mempercepat diversifikasi pasar dan produk agar pertumbuhan ekspor lebih berkelanjutan.

Hilirisasi Jadi Penopang Ekspor

Di tengah tekanan impor, sektor nonmigas masih menjadi kekuatan utama perdagangan Indonesia. Data BPS menunjukkan besi dan baja, minyak kelapa sawit (CPO) beserta produk turunannya, serta batu bara menyumbang 28,62% dari total ekspor nonmigas selama Januari–Juli 2026.

Dalam periode tersebut, ekspor besi dan baja tumbuh 2,77%, CPO dan turunannya meningkat 5,49%, sementara ekspor batu bara naik 4,75%.

Tidak hanya mengandalkan komoditas mentah, peningkatan ekspor juga mulai ditopang produk hasil industri pengolahan dan hilirisasi. Produk olahan nikel, bahan kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, produk kimia organik lainnya, aluminium, serta produk olahan sawit menjadi sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap kinerja ekspor.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk menjadi semakin penting bagi penguatan ekspor Indonesia. Dengan memperluas pasar sekaligus meningkatkan kualitas produk, pemerintah berharap ekspor dapat tumbuh lebih kuat dan menjaga neraca perdagangan tetap berada di zona surplus hingga akhir 2026. (Sn)

Scroll to Top