Sydney | EGINDO.co – China menyatakan keprihatinan serius terkait kehadiran Taiwan dalam pertemuan tahunan Forum Kepulauan Pasifik di Palau, serta memperingatkan akan adanya “konsekuensi” setelah wilayah yang diperintah secara demokratis itu menghadiri upacara pembukaan forum tersebut pada hari Senin (31 Agustus).
China memandang Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, dan ketegangan antara China dan Taiwan menjadi sorotan utama dalam pertemuan yang bertujuan untuk menunjukkan persatuan kawasan ini.
“Akan selalu ada konsekuensinya,” ujar Qian Bo, utusan khusus China untuk urusan Kepulauan Pasifik, menanggapi kehadiran Taiwan dalam acara tersebut. “Ini bukan sebuah ancaman,” katanya tanpa merinci apa konsekuensi yang dimaksud.
“Hal ini ditentang oleh semua pihak, jadi seharusnya tidak terjadi. Menurut kami, tindakan tersebut sangat tidak pantas,” ujarnya kepada wartawan pada hari Senin usai upacara pembukaan di Palau, sebuah negara kepulauan yang terdiri dari lebih dari 500 pulau dan masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa “Forum Kepulauan Pasifik-lah yang menentukan apa yang terjadi di sini, bukan negara lain,” saat ditanya wartawan mengenai pernyataan utusan China tersebut.
“Ini pada dasarnya adalah pertemuan keluarga Pasifik… dan saya menantikan interaksi ini,” kata Albanese pada hari Selasa.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, sependapat dengan hal tersebut dan menegaskan bahwa kelompok ini tidak menerima instruksi dari negara-negara di luar keanggotaannya.
“Taiwan merasa terhormat dapat menjadi mitra di kawasan Pasifik, terus berdiri bersama semua pihak dan bekerja sama untuk mewujudkan Pasifik yang lebih makmur dan damai,” kata Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung pada hari Senin.
Lin Chia-lung diundang untuk menghadiri pertemuan dan acara sampingan yang diselenggarakan bersamaan dengan forum tersebut. Taiwan bukanlah mitra dialog resmi forum ini seperti halnya China, melainkan mitra pembangunan. AS, UE, Inggris, Kanada, India, dan Jepang juga termasuk di antara 21 mitra dialog forum tersebut.
China secara bertahap telah mengurangi jumlah negara Kepulauan Pasifik yang menjalin hubungan resmi dengan Taipei; kini hanya tersisa tiga negara, yaitu Palau, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall.
Para pemimpin Fiji, Vanuatu, Samoa, Kepulauan Solomon, dan Kiribati tidak menghadiri pertemuan kelompok beranggotakan 18 negara—yang mencakup Australia, Selandia Baru, dan berbagai negara kepulauan Pasifik—ini. Posisi mereka diwakili oleh para menteri. Meskipun Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Australia, Canberra tetap waspada terhadap pengaruh Beijing yang kian meluas di Pasifik serta telah meningkatkan kerja sama keamanan dan pembangunan dengan negara-negara kepulauan guna mencegah kehadiran militer permanen Tiongkok di kawasan tersebut.
Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat sejak lama menganggap Pasifik Selatan sebagai wilayah yang berada dalam lingkup pengaruh mereka.
Sebagai langkah terbaru dalam upaya tersebut, Selandia Baru dan AS—dalam pernyataan bersama yang dirilis pada hari Selasa saat berlangsungnya KTT—menyatakan akan bersama-sama mendanai peningkatan besar-besaran fasilitas pelabuhan peninggalan Perang Dunia II yang terletak di sebuah atol di Kepulauan Cook.
Sumber : CNA/SL