Jakarta|EGINDO.co Struktur perdagangan nonmigas Indonesia mengalami perubahan pada periode Januari–Juli 2026. Komoditas garam, belerang, batu, dan semen yang tercakup dalam kode HS 25 kini masuk dalam jajaran lima kelompok barang nonmigas dengan defisit perdagangan terbesar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok HS 25 mencatat defisit sebesar US$2,59 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Posisi tersebut membuat HS 25 menggantikan kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) dalam daftar lima besar komoditas penyumbang defisit nonmigas.
Perubahan ini terlihat dibandingkan periode Januari–Juni 2026. Saat itu, lima komoditas dengan defisit terbesar terdiri atas mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar US$15,93 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) US$7,98 miliar, plastik dan barang dari plastik (HS 39) US$4,72 miliar, serealia (HS 10) US$1,85 miliar, serta kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) US$1,83 miliar.
Memasuki Januari–Juli 2026, defisit mesin dan peralatan mekanis semakin melebar menjadi US$18,76 miliar. Berikutnya, mesin dan perlengkapan elektrik mencatat defisit US$9,73 miliar, sedangkan plastik dan barang dari plastik mencapai US$5,51 miliar.
Serealia berada di posisi berikutnya dengan defisit US$2,27 miliar, sementara HS 25 mencatat defisit lebih besar, yakni US$2,59 miliar.
Surplus Nonmigas Masih Terjaga
Meski terdapat sejumlah kelompok komoditas yang mengalami defisit, neraca perdagangan nonmigas Indonesia secara keseluruhan masih menunjukkan kinerja positif.
BPS mencatat perdagangan nonmigas Indonesia pada Januari–Juli 2026 membukukan surplus US$22,45 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) yang mencatat surplus mencapai US$20,96 miliar.
Selain itu, bahan bakar mineral (HS 27) menyumbang surplus US$16,39 miliar, besi dan baja (HS 72) sebesar US$10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya (HS 75) US$7,08 miliar, serta alas kaki (HS 64) sebesar US$3,84 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus perdagangan nonmigas masih terutama ditopang oleh komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati.
Dengan demikian, meskipun defisit sejumlah kelompok barang impor mengalami peningkatan, struktur perdagangan nonmigas Indonesia hingga Juli 2026 masih mencatatkan surplus yang cukup kuat. Perubahan posisi HS 25 menjadi salah satu penyumbang defisit terbesar juga menunjukkan adanya dinamika baru dalam kebutuhan impor komoditas Indonesia sepanjang tahun berjalan. (Sn)