Risiko Danau Jebol di Dekat Lokasi Bencana Perbatasan China-Nepal Mereda

Risiko Danau Jebol di Lokasi Bencana Mereda
Risiko Danau Jebol di Lokasi Bencana Mereda

Beijing | EGINDO.co – Otoritas Tiongkok pada Sabtu (29 Agustus) menyatakan bahwa ancaman jebolnya danau yang terbentuk akibat runtuhnya gletser di dekat perbatasan Tiongkok-Nepal—lokasi terjadinya banjir dahsyat awal pekan ini—telah berkurang karena ukuran danau tersebut tampak menyusut.

Citra satelit dari hari Kamis hingga Sabtu pagi menunjukkan bahwa air di danau tersebut—yang membentang melintasi perbatasan antara wilayah Tibet di Tiongkok dan Nepal di titik pertemuan dua sungai—mengalir keluar secara perlahan, sehingga volume air di waduk alami itu berangsur berkurang. Demikian dilaporkan penyiar negara CCTV yang mengutip Kementerian Sumber Daya Air.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa citra satelit mengenai luas permukaan danau di Sungai Purepu Tsangpo menunjukkan ukuran 99.000 meter persegi pada Sabtu pagi—setara dengan luas gabungan 14 lapangan sepak bola—yang berarti telah menyusut sebesar 21.000 meter persegi dibandingkan dengan citra dari hari Kamis.

Runtuhnya gletser pada hari Rabu memicu aliran deras yang membawa batu, es, lumpur, dan puing-puing melalui sistem sungai pegunungan Himalaya, menyapu bersih kompleks pelabuhan perbatasan yang menghubungkan Tibet dengan Nepal, serta menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang.

Risiko dalam Pemantauan

Para ahli dan pihak berwenang telah memperingatkan adanya risiko sangat tinggi akan bencana susulan di lembah tersebut, terutama yang berasal dari danau yang terbentuk akibat puing-puing gletser, yang berpotensi membahayakan operasi penyelamatan di bagian hilir.

Dengan air yang mengalir keluar secara alami, para ahli dari Kementerian Sumber Daya Air menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di hilir dapat dilanjutkan dengan aman jika debit air yang keluar tetap rendah atau dapat dikendalikan, serta surut sepenuhnya dalam waktu dua hingga tiga hari.

Tim penyelamat dapat segera diberi tahu untuk melakukan evakuasi jika muncul tanda-tanda ketidaknormalan pada danau tersebut, dengan peringatan yang dikeluarkan lebih dari 30 menit sebelumnya, demikian pernyataan para ahli yang dikutip oleh CCTV.

Perusahaan teknik dan penyelamatan milik negara, China Anneng, yang telah memantau danau tersebut sejak hari Kamis, telah mengerahkan radar dan pesawat nirawak (drone) di sekitar danau untuk melakukan pengawasan selama 24 jam, lapor CCTV.

Luapan air awal dari danau pada hari Jumat sempat menghentikan sementara upaya penyelamatan sebelum penilaian lanjutan menyimpulkan bahwa risiko yang ada masih dapat dikendalikan.

Pihak berwenang juga telah mengidentifikasi adanya genangan air lain yang lebih besar di bagian bawah lokasi runtuhnya gletser.

“Kami memperkirakan luasnya lebih dari 120.000 meter persegi, namun kedalamannya saat ini belum diketahui,” ujar Chen Hongqi, seorang insinyur senior di Pusat Panduan Teknis Bencana Geologi di bawah Kementerian Sumber Daya Alam. Risiko banjir akan tetap ada sampai kedua danau tersebut benar-benar surut, demikian pernyataan seorang pejabat dari Otoritas Manajemen Bencana Nepal.

Mencari Penyintas

Di tengah cuaca suram dan hujan pada Sabtu pagi, lebih dari 50 petugas penyelamat menyisir puing-puing batu besar dan lumpur untuk mencari tanda-tanda kehidupan serta memanggil-manggil jika ada penyintas, menurut laporan CCTV.

Tim penyelamat pertama beserta seekor anjing pelacak tiba di kompleks perbatasan Gyirong pada Jumat sore dan mendapati tempat itu telah hancur lebur.

Kondisi berbahaya di zona utama bencana—yang diperparah oleh terputusnya akses jalan dan komunikasi—terus menjadi tantangan bagi upaya bantuan Tiongkok, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.

Jumlah korban tewas akibat bencana ini di pihak Tiongkok meningkat menjadi tujuh orang pada Sabtu pagi, sementara 554 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Hampir 500 penduduk desa dan pekerja konstruksi, serta seluruh 555 wisatawan dari wilayah tersebut, telah dievakuasi, lapor Xinhua.

Penyebab Masih Belum Jelas

Penyebab keruntuhan tersebut masih belum jelas, namun para ahli iklim menyebutkan bahwa pemanasan global bisa jadi merupakan salah satu faktornya.

“Kami belum sepenuhnya yakin apakah peristiwa ini dipicu oleh gempa bumi atau… oleh suhu hangat yang mencairkan gletser,” ujar Benjamin Horton, Dekan Sekolah Energi dan Lingkungan di City University of Hong Kong.

Video yang dibagikan di media sosial dan telah diverifikasi oleh Reuters memperlihatkan bagian bawah gletser di dekat puncak gunung Langtang Lirung terlepas dan jatuh ke lembah di bawahnya, memicu longsoran es dan batu serta tanah longsor besar-besaran.

“Salah satu alasan mengapa kita belum sepenuhnya memahami mekanisme penyebab tanah longsor ini adalah kurangnya data. Oleh karena itu, perlu ada investasi dalam bidang sains dan investasi bagi masyarakat,” kata Horton.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top