Workshop Corporate Writing & Media Handling Jangkau Anggota Paguyuban Sinarmas Sumatra Utara

Berpose bersama sebelum menghujani trainer dengan belasan pertanyaan
Berpose bersama sebelum menghujani trainer dengan belasan pertanyaan

Oleh: Garneta Christianto

Bagi para praktisi humas di perusahaan, kadang kemampuan mengemas pesan secara verbal terasah jauh lebih tajam meninggalkan kapasitas menyampaikan pesan secara tertulis. Padahal di era digital, semakin beragam medium komunikasi berbasis teks yang karakteristiknya satu dengan lainnya berbeda, yang mesti dikuasai sama baiknya.

Untuk menjembatani kesenjangan tadi, Eka Tjipta Foundation (ETF) menggandeng Corporate Communication President Office Sinar Mas, menjangkau Paguyuban Sinar Mas Sumatra Utara lewat Workshop Corporate Writing & Media Handling yang berlangsung di mill PT Soci Mas, Medan. “Hal ini mengingat pentingnya pembekalan dalam penulisan korporat dan penanganan media bagi karyawan di Sumatra Utara,” ujar Budiyati Hasan selaku Ketua Paguyuban Sinar Mas Sumut mengenai latar belakang mereka menghelat lokakarya.

Harapannya dengan penguasaan penulisan korporat yang semakin mumpuni dan efektif, ke-40 orang peserta dari lintas perusahaan di bawah naungan Sinar Mas – sebagian  besar berasal dari pilar Sinar Mas Agribusiness & Food – yang hadir akan mampu menjaga reputasi perusahaan sekaligus meraih kepercayaan publik luas lewat pesan yang mereka kemas, melalui media massa.

Selama lokakarya, peserta bertukar pengalaman seputar teknik menyusun materi komunikasi bagi beragam keperluan seperti siaran pers, konten media sosial, bagaimana menyusun pesan yang efektif di lingkup internal perusahaan masing-masing, berikut kiat berinteraksi dengan insan pers, para jurnalis. Penggunaan perangkat kecerdasan buatan dalam membantu penulisan juga menjadi bahasan seru siang hari itu.

“Sudah barang tentu AI dapat kita gunakan membantu tugas penulisan karena hakekat keberadaan mereka memang adalah alat bantu. Namun kedepankan kontrol dan pengambilan keputusan tetap berada di tangan kita, bukan ‘diserahkan’ ke perangkat itu,” demikian Jaka Anindita dari Corporate Communications President Office dalam diskusi.

Berlangsung dalam bentuk pemaparan, studi kasus, tanya jawab serta simulasi, antusiasme peserta tampak cukup tinggi, hingga belasan pertanyaan sempat terlontar, yang sembari guyon mereka sebut hanya terhentikan karena waktu telah memasuki saat ibadah salat Jumat. Bahkan bagaimana caranya mengemas ulang standar operasi dan prosedur di pabrik sehingga dapat lebih jelas sekaligus mudah dipahami karyawan juga sempat mengemuka.

Saat mempresentasikan karya rupanya adalah momentum yang dinantikan peserta karena setelah mempraktikkan referensi yang baru diperoleh sepanjang lokakarya, mereka dapat bergantian menunjukkannya sekaligus saling mengkritisi setiap karya rekannya yang dievaluasi bersama di depan forum, hingga kegiatan ditutup pada pukul 16.00 WIB.

Sebuah lokakarya bukanlah akhir. Agar kemampuan mengemas pesan tertulis tetap relevan, yayasan berharap ke depan semua peserta mampu menjaga antusiasme untuk terus belajar, berdiskusi dengan lintas pihak dan tak henti berpraktik.@

***

Scroll to Top