Washington | EGINDO.co – Departemen Keuangan AS dijadwalkan akan memutus akses operasional sebuah bank besar asal Mesir di Uni Emirat Arab (UEA) dari sistem keuangan AS, kata seorang pejabat pada hari Jumat (28 Agustus), di tengah upaya Washington untuk melumpuhkan ekonomi Iran.
Langkah ini berdampak pada cabang-cabang UEA milik Banque Misr—bank terbesar kedua di Mesir—dengan memblokir akses perbankan mereka ke lembaga-lembaga keuangan AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan ini memaparkan rencana untuk “melumpuhkan ekonomi” Iran, enam bulan setelah dimulainya perang melawan Teheran yang kini menemui jalan buntu.
Washington telah “memperingatkan bahwa pihak-pihak yang memfasilitasi Iran tidak dapat terus menikmati akses ke dolar AS dan sistem keuangan global,” ujar Bessent pada hari Jumat.
“Banque Misr cabang UEA memilih untuk belajar melalui pengalaman pahit, dan hari ini, kami mengambil langkah pertama untuk meminta pertanggungjawaban mereka atas dukungan yang terus-menerus dan mencolok terhadap rezim Iran,” tambahnya dalam sebuah pernyataan yang pertama kali dilaporkan oleh Financial Times.
Tindakan Departemen Keuangan ini baru akan berlaku setelah masa tanggapan publik selama satu bulan berakhir.
Bank sentral Mesir menyatakan bahwa para pejabatnya “sedang berkomunikasi dengan pihak Amerika terkait langkah-langkah ini.”
Pihaknya menambahkan bahwa langkah AS tersebut terbatas pada transaksi cabang Banque Misr di UEA “yang melibatkan koresponden dalam mata uang dolar AS saja, dan tidak ada satu pun dari langkah ini yang berdampak pada bank-bank lain di sektor perbankan Mesir.”
Serangan AS-Israel yang menargetkan Iran sejak akhir Februari memicu pembalasan dari Teheran berupa pemblokiran sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz, sekaligus menyeret Timur Tengah ke dalam perang.
Selat tersebut merupakan jalur krusial bagi transit energi global, yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam.
Bessent menegaskan bahwa Amerika Serikat mencanangkan “D-Day ekonomi” terhadap Iran, serta memperingatkan akan adanya konsekuensi berat bagi negara-negara yang tidak bergabung dalam kampanye tersebut.
Kepala Departemen Keuangan AS itu menambahkan pekan ini bahwa Presiden Donald Trump juga sedang menghubungi para pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan interaksi dengan Teheran.
Bessent sendiri dijadwalkan akan menyampaikan seruan langsung kepada rekan sejawatnya di G20 dalam pertemuan bilateral pekan depan, saat para menteri keuangan berkumpul di Asheville, Carolina Utara, untuk melakukan pembicaraan.
Namun, langkah hari Jumat ini menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Trump dalam menyasar target-target yang lebih besar.
Beijing, misalnya, merupakan pembeli penting minyak Iran. Sebelum perang, Teheran mengekspor jutaan barel minyak per hari, sebagian besar ke Tiongkok.
Namun, langkah-langkah untuk menargetkan berbagai institusi di Tiongkok dapat berdampak pada ekonomi global dan akan mempertegang hubungan antara Washington dan Beijing menjelang kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke ibu kota AS yang dijadwalkan pada bulan September.
Departemen Keuangan AS pada hari Jumat menyatakan pihaknya juga menjatuhkan sanksi terhadap manajer cabang Dubai dari Bank Melli Iran, serta “sebuah perusahaan boneka yang berbasis di Hong Kong yang telah membantu pencucian dana bagi sebuah perusahaan penukaran mata uang Iran yang terkena sanksi.”
Sumber : CNA/SL