Menjemput Rindu di Tanah Haram, Bukan Sekadar Perjalanan Wisata, Temukan Hakiki Umroh

Umroh ketika Tawaf berputar mengelilingi Ka’bah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. (Foto: Fadmin Malau)
Umroh ketika Tawaf berputar mengelilingi Ka’bah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

ADA rindu yang terpendam membuat langkah melangkah. Bagi sebagian orang, umroh mungkin terlihat seperti perjalanan wisata atau sekadar religius biasa. Pasalnya gampang, beli tiket, terbang ke Arab Saudi, memakai kain putih, lalu berjalan mengelilingi Ka’bah.

Sederhana bahasanya. Namun, sesungguhnya umroh adalah bagi jiwa yang rindu, umroh adalah sebuah defragmentasi spiritual, sebuah proses pembongkaran ego untuk membangun kembali kedekatan dengan Sang Pencipta.

Mengapa demikian? Jika hanya wisata pasti yang terpikirkan adalah Paris, Swiss, Prancis, Italia atau Singapura. Beda dengan umroh bukan tentang berwisata meski banyak yang melebeli dengan wisata religious. Sesungguhnya lebel itu kurang tepat sebab umroh sebuah perjalanan dalam hidup untuk perubahan hati yang dibawa pulang dari umroh.

Umroh bukan sekadar perjalanan wisata. Bisa dibuktikan ketika umroh dengan kain Ihram yang menjadi simbol runtuhnya ego dan kesombongan. Kain Ihram bermakna hakiki bahwa manusia itu semua sama, ketika kita mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan yakni bagi laki-laki terasa dunia tiada arti, semua manusia sama di hadapan Allah.

Kain Ihram yang dikenakan tidak mengenal merek, tidak ada yang melekat di tubuh, hanya helaian kain. Kain Ihram mengingatkan kematian sebelum kita mati. Begitu ruh berpisah dengan jasat makan kita akan menghadap Allah dan hanya dengan selembar kain kafan.

Umroh ketika Tawaf berputar mengelilingi Ka’bah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. Berputar tujuh kali mengelilingi Ka’bah menuntut fokus total. Tubuh kita bergerak melingkar mengelilingi Ka’bah memiliki makna bahwa hati kita ditarik ke satu titik pusat.

Tawaf, manusia mengelilingi Ka’bah dimana Ka’bah adalah poros, sumbu bumi sesungguhnya sehingga ketika Tawaf kita berada pada sumbu bumi, memiliki makna bumi berputar seiring dengan jiwa dan raga kita berputar.

Usai Tawaf berputar mengelilingi Ka’bah jamaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan berfoto bersama (Foto: dok Miqot)

Sesungguhnya hakikat Tawaf adalah miniatur kehidupan dimana kita berkomitmen bahwa teruslah bergerak karena Allah SWT adalah pusat dari segala keputusan, pekerjaan, dan tujuan hidup kita ada pada Allah SWT dan kita harus terus berusaha bergerak tiada henti.

Makna Tawaf diwujudkan ketika kita melakukan Sa’i dimana Siti Hajar yang berjuang untuk kehidupan bayinya. Siti Hajar berdoa dan berusaha sekuat tenaga meskipun dalam keadaan lemah setelah melahirkan.

Sa’i adalah menghargai proses dan ikhtiar tangguh. Siti Hajar meski tubuhnya lemah akan tetapi berjalan dan berlari kecil antara Bukit Safa dan Marwah untuk mencari air bagi bayinya. Umroh ketika Sa’i adalah napak tilas perjuangan Siti Hajar mencari air untuk bayinya, Ismail.

Siti Hajar berlari bolak-balik bukan karena tahu dimana air berada, melainkan karena tahu Allah memerintahkannya untuk berusaha. Ya, Allah SWT memerintahkan manusia untuk terus berusaha dan ketentuan ada pada Allah SWT. Tugas manusia berusaha maka hakikat dari Sa’i mengajarkan tawakal yang aktif.

Tugas manusia adalah bergerak dan berikhtiar dengan maksimal seperti yang dilakukan Siti Hajar dari Safa ke Marwah. Terus berusaha, tentang hasil ada pada Allah SWT, akhirnya berhasil dengan air zamzam. Artinya manusia harus terus berusaha, tentang hasil adalah hak prerogatif Allah SWT.

Usai Sa’i dalam umroh dilanjutkan dengan Tahalul yang memiliki makna menggugur dosa dan membuka lembaran baru dimana memotong rambut menandai berakhirnya rangkaian ibadah umroh.

Mengapa harus memotong rambut atau mencukur rata rambut di kepala? Maknanya rambut ada mahkota, simbol keindahan duniawi bagi manusia dan rambut di kelapa adalah harga diri manusia. Hakikat memotong rambut adalah simbol pembersihan dari pikiran-pikiran kotor, kesombongan, dan dosa masa lalu.

Umroh yang Mabrur atau Umroh yang sukses tidak diukur dari seberapa lancar perjalanan fisiknya, melainkan dari efek transformatifnya. Artinya bagaimana kehidupan kita setelah pulang umroh? Apakah menjadi lebih jujur, lebih penyabar dan salatnya lebih terjaga serta menemukan makna hakiki dari hidup beribadah. Sesungguhnya Umroh adalah momentum untuk pulang ke “rumah” spiritual kita, agar saat kembali ke dunia nyata, kita tahu ke mana arah hidup ini harus melangkah.

Ingat, ada satu tempat di bumi ini dimana jutaan manusia datang dengan air mata. Namun, pulang dengan senyuman. Nah, tempat itu adalah Baitullah, menara kompas bagi setiap muslim yang merindukan ketenangan sejati. Baitullah adalah poros bumi yang terus berputar hingga akhir zaman dimana bumi tidak berputar lagi maka berakhirlah fase kehidupan dunia.@

***

(Bersambung untuk Sabtu dan Ahad setiap pekan; Menjemput rindu di Tanah Haram……)

Scroll to Top