Shanghai | EGINDO.co – Konglomerat teknologi asal Tiongkok, Huawei, berencana memperluas kerja sama kecerdasan buatan (AI) dengan perusahaan farmasi lokal hingga mencakup pengembangan obat dan praktik klinis, menurut pernyataan seorang eksekutif senior.
Langkah ini menyoroti ambisi Huawei untuk menancapkan pijakan di pasar penemuan obat berbasis AI yang berkembang pesat, di mana perusahaan-perusahaan farmasi berinvestasi pada perangkat pemodelan dan laboratorium otomatis guna memangkas waktu pengembangan serta meningkatkan efisiensi.
“Seiring kami memperdalam penelitian AI di bidang medis, akan muncul lebih banyak kolaborasi dan hasil nyata bersama perusahaan farmasi, mulai dari tahap manufaktur obat dan uji klinis hingga implementasi akhir,” ujar William Zhang, presiden unit bisnis layanan kesehatan Huawei, kepada Reuters pada hari Rabu.
Ia menyebutkan bahwa Huawei telah menjalin sejumlah kerja sama di bidang praktik klinis dengan pihak rumah sakit dan sedang menjajaki peluang lebih lanjut, namun ia tidak memberikan perincian lebih lanjut.
Saat ini, proyek-proyek tersebut sebagian besar melibatkan perusahaan pembuat obat dalam negeri, tambahnya.
Raksasa cip asal AS, Nvidia, telah menjalin kemitraan terkait AI dengan perusahaan farmasi seperti Eli Lilly dan Novo Nordisk, seiring upaya perusahaan teknologi untuk memanfaatkan meningkatnya permintaan akan penelitian obat berbasis AI.
Huawei menawarkan perangkat untuk menyaring senyawa obat yang berpotensi layak dikembangkan, serta menyediakan cip Ascend dan Kunpeng buatannya sendiri.
Pada bulan Mei, Huawei menyatakan bahwa salah satu proyek yang melibatkan perusahaan milik negara, Guangzhou Pharmaceutical Holdings, merupakan validasi produksi pertama di industri ini untuk model penelitian obat berbasis AI yang dikembangkan secara mandiri dan disesuaikan dengan teknologi Ascend serta Kunpeng milik Huawei.
Menurut laporan Reuters sebelumnya, perkiraan industri menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran mesin (*machine learning*) untuk mengoptimalkan penemuan target, merancang molekul, dan mengefisienkan perencanaan uji klinis dapat memangkas waktu serta biaya pengembangan tahap awal hingga separuhnya dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun ke depan.
Sumber : CNA/SL