Mekkah | EGINDO.com – Pemerintah Kerajaan Arab Saudi secara resmi tidak merayakan dan tidak melarang libur kerja untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan Indonesia atau negara Timur Tengah lainnya seperti Mesir dan Oman, Arab Saudi tidak menetapkan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional.
Adapun alasan resmi Pemerintah Arab Saudi adalah pendekatan Fikih Konservatif: Otoritas keagamaan dan para ulama di Arab Saudi memegang pandangan bahwa perayaan hari lahir Nabi tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW maupun para sahabat. Oleh karena itu, ritual ini dikategorikan sebagai bid’ah (perkara baru dalam ibadah).
Pemerintah setempat menekankan agar umat Islam mengekspresikan rasa cinta kepada Nabi dengan cara memperkuat ibadah wajib dan menghidupkan sunah harian, bukan melalui acara seremonial tahunan. Segala bentuk dekorasi khusus, pengajian massal, atau upacara perayaan Maulid dilarang keras dilakukan di area publik, termasuk di Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).
Meskipun tidak ada perayaan resmi dari negara, sebagian masyarakat di wilayah Hijaz (Mekkah, Madinah, dan Jeddah) secara turun-temurun menganggap Rabiul Awal sebagai bulan penuh berkah. Bentuk kegiatan kelompok masyarakat biasanya memperingati momen tersebut secara privat di dalam rumah, diisi dengan membaca selawat, syair pujian (madah), bersedekah, serta berbagi makanan kepada tetangga dan orang yang membutuhkan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar ritual tahunan untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah pada 12 Rabiul Awal. Lebih dari itu, momen ini adalah cermin besar bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali sejauh mana kita telah meneladani kehidupan manusia paling mulia di muka bumi ini.
Rasulullah SAW diutus ke dunia dengan misi utama untuk menyempurnakan akhlak manusia. Di tengah dunia modern yang penuh tantangan moral, nilai-nilai kejujuran (Siddiq), keterpercayaan (Amanah), penyampaian kebenaran (Tabligh), dan kecerdasan yang bijaksana (Fathanah) harus kembali dihidupkan. Meneladani beliau berarti menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan keadilan dalam setiap tindakan kita sehari-hari.
Allah SAW menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai Rahmatan lil ‘Alamin—rahmat bagi semesta alam. Karakter utama beliau adalah penuh kasih sayang, lemah lembut, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Peringatan Maulid harus menjadi pengingat bagi kita untuk menghentikan ujaran kebencian, meredam konflik, dan memperbanyak aksi sosial yang membantu sesama tanpa memandang perbedaan.
Ekspresi cinta terbaik kepada Rasulullah SAW adalah dengan menghidupkan sunah-sunahnya dan memperbanyak membaca selawat. Selawat bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah komitmen spiritual untuk selalu terhubung dengan bimbingan dan cahaya spiritual yang dibawa oleh beliau.
Melalui momentum Maulid Nabi, mari kita jadikan ajaran Rasulullah SAW sebagai kompas utama dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, maupun bernegara. Dengan mencontoh akhlak beliau, kita tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga ikut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.@
Fadmin/timEGINDO.com