Ekspor Indonesia ke Uni Eropa Ditargetkan Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2027

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah membidik peningkatan signifikan ekspor Indonesia ke Uni Eropa pada 2027 seiring rencana penerapan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kementerian Perdagangan menargetkan nilai ekspor ke kawasan tersebut dapat meningkat hingga dua kali lipat setelah kesepakatan perdagangan mulai berjalan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan IEU-CEPA ditargetkan ditandatangani pada Oktober 2026. Apabila proses berjalan sesuai rencana, perjanjian tersebut diharapkan mulai diterapkan pada awal 2027.

“Kalau Oktober tanda tangan, harapan kita Januari 2027 itu sudah implementasi,” ujar Budi saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).

Kesepakatan ini dinilai dapat memperkuat daya saing produk nasional karena sekitar 90,4% pos tarif ekspor Indonesia ke Uni Eropa akan langsung mendapatkan tarif nol persen. Sementara itu, sekitar 8,37% pos tarif lainnya akan mengalami pengurangan secara bertahap.

Produk unggulan seperti minyak sawit dan turunannya, kopi, alas kaki, tekstil, furnitur, produk perikanan, karet, serta berbagai komoditas pertanian berpotensi memperoleh akses yang lebih luas ke pasar Eropa.

Budi optimistis peningkatan akses pasar tersebut dapat mendorong ekspor hingga dua kali lipat pada tahun pertama implementasi. Pemerintah juga terus mempersiapkan aspek regulasi dan teknis agar pelaksanaan perjanjian tidak terhambat oleh proses domestik maupun dinamika perdagangan global.

Optimisme tersebut diperkuat oleh skala pasar Uni Eropa yang mencapai sekitar 450 juta konsumen. Pemerintah menilai IEU-CEPA bukan hanya membuka peluang perdagangan, tetapi juga berpotensi menarik investasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan dokumen IEU-CEPA ditargetkan selesai dan ditandatangani pada Oktober 2026. Setelah itu, proses ratifikasi akan dilanjutkan agar kesepakatan dapat diterapkan mulai awal 2027.

Namun, kinerja perdagangan Indonesia-Uni Eropa masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam naskah tersebut, neraca perdagangan pada Januari–Juni 2026 mencatat surplus US$1,96 miliar, turun dibandingkan surplus US$3,91 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah kini berupaya memastikan ketegangan geopolitik dan perubahan jalur perdagangan internasional tidak mengganggu implementasi IEU-CEPA. Komunikasi dengan pihak Uni Eropa terus dilakukan untuk menjaga kelancaran arus barang sekaligus memaksimalkan manfaat perjanjian bagi eksportir nasional.

Sejalan dengan itu, ANTARA News melaporkan bahwa IEU-CEPA akan menjadi salah satu perjanjian perdagangan dengan komitmen tarif tertinggi yang diberikan Indonesia. Kesepakatan tersebut juga mencakup digitalisasi perdagangan, percepatan kepabeanan, kerja sama standar, serta ketentuan sanitari dan fitosanitari.

Dengan kesiapan perjanjian yang terus dikebut, 2027 diharapkan menjadi momentum bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas penetrasi pasar Eropa dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap perekonomian nasional. (Sn)

Scroll to Top