Palangkaraya, Kalteng | EGINDO.co – Mengenakan kostum pahlawan super favoritnya, seorang remaja Indonesia bernama Rudiyansah berjalan melintasi lahan yang hangus terbakar, membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang telah melalap sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan.
Negara di Asia Tenggara ini tengah berjibaku melawan kobaran api yang menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti sebagian wilayah pulau yang wilayahnya dibagi bersama Malaysia dan Brunei tersebut.
Kostum Superman berwarna merah dan biru yang dikenakan Rudiyansah tampak mencolok di tengah lanskap hangus yang gersang di sekitar kota Palangkaraya; di sana, ia bergabung dengan kelompok sukarelawan pemadam kebakaran setempat yang dibentuk oleh ayahnya untuk memadamkan bara api di lahan gambut.
Remaja berusia 17 tahun itu mengatakan kepada AFP bahwa ia telah memanfaatkan waktu luang sepulang sekolah untuk membantu ayahnya memadamkan api sejak tahun 2023.
Namun, tahun ini ia memutuskan untuk mengenakan kostum ketat berwarna cerah tersebut saat memadamkan api, menciptakan pemandangan unik yang menarik perhatian publik terhadap upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Meski Rudiyansah mengaku mengenakan kostum “Man of Steel” itu “hanya untuk bersenang-senang”, video yang memperlihatkan dirinya sedang menyemprotkan air ke arah vegetasi telah menjadi viral, meraih jutaan penayangan, dan membuatnya dijuluki sebagai “pahlawan hutan” oleh Menteri Kehutanan.
“Jujur saja, saya sangat senang karena bisa membantu warga setempat, meskipun rasanya sangat melelahkan,” ujar Rudiyansah—yang seperti banyak orang Indonesia lainnya hanya menggunakan satu nama—kepada AFP pada hari Minggu (23 Agustus) sembari tetap mengenakan jubahnya.
Ia menuturkan bahwa dirinya sedikit membasahi kostumnya sebelum turun ke lapangan agar tidak terbakar, serta mencucinya setiap malam agar tetap bersih.
“Anak Biasa”
Ayahnya, Mulyadi, mengatakan kepada AFP bahwa kabut asap akibat kebakaran musim ini merupakan yang terparah yang pernah dihadapi kelompok sukarelawan pemadam kebakarannya sejak dibentuk pada tahun 2020.
“Di rumah, dia itu seperti anak-anak pada umumnya,” ujarnya saat ditanya mengenai putranya yang kerap mengenakan jubah tersebut.
“Tapi saat melihat saya hendak pergi, dia akan bertanya, ‘Ayah mau memadamkan api? Aku ikut ya,'” tuturnya.
Menurut Mulyadi, kendala utama bagi para pemadam kebakaran adalah minimnya ketersediaan air, mengingat sumur dan sumber air lainnya mengering selama musim kemarau. Pemerintah menyatakan pekan ini bahwa kebakaran yang terjadi antara bulan Januari dan Juli telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare lahan—luas wilayah yang setara dengan tiga kali lipat luas ibu kota Jakarta.
Angka tersebut sudah melampaui luas lahan yang terbakar pada musim El Nino sebelumnya—sebuah pola cuaca yang memicu perubahan global pada angin, tekanan atmosfer, dan curah hujan—yakni pada tahun 2019 dan 2023.
Pemerintah telah memerintahkan pengerahan lebih banyak personel dan pesawat untuk membantu mengendalikan penyebaran kebakaran serta kabut asap yang telah mencapai wilayah Malaysia.
El Nino adalah fenomena iklim alami yang biasanya mendatangkan kekeringan di Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Perubahan iklim akibat aktivitas manusia dapat memperparah dampaknya, karena suhu laut dan atmosfer yang lebih hangat menyediakan lebih banyak energi dan kelembapan yang memicu kejadian cuaca ekstrem.
Rudiyansah, yang bercita-cita menjadi petugas jagawana suatu hari nanti, menyemangati para petugas pemadam kebakaran agar terus berjuang meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam memadamkan api.
“Kepada para sukarelawan dan petugas pemadam kebakaran di seluruh Indonesia, tetaplah semangat dalam memerangi kobaran api,” ujarnya.
Sumber : CNA/SL