Sydney | EGINDO.co – Ibu kota Australia akan turut serta dalam program pembelian kembali senjata api sebagai bagian dari respons terhadap aksi penembakan yang menewaskan 15 orang di sebuah festival Yahudi di Sydney, kata Perdana Menteri Anthony Albanese pada hari Sabtu (22 Agustus).
Pemerintahan berhaluan kiri-tengah pimpinan Albanese mengesahkan undang-undang pada bulan Januari untuk program pembelian kembali senjata api, pengetatan pemeriksaan izin kepemilikan senjata, dan tindakan tegas terhadap kebencian, menyusul serangan bersenjata pada 14 Desember di perayaan Hanukkah di Bondi Beach, Sydney—ibu kota negara bagian New South Wales.
Negara bagian tersebut, yang merupakan wilayah terpadat penduduknya di Australia, menjadi yang pertama berkomitmen terhadap rencana ini, yang akan dimulai pada 2 November.
Wilayah Ibu Kota Australia (ACT)—tempat ibu kota negara, Canberra, berada—telah menyetujui skema serupa dalam upaya memastikan bahwa “serangan teroris antisemitis seperti yang kita lihat di Bondi tidak akan terjadi lagi,” ujar Albanese.
“Saya berterima kasih kepada Pemerintah ACT atas kerja sama mereka dalam upaya kami menarik senjata api dari jalanan demi melindungi warga Australia dengan lebih baik,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Menurut pernyataan tersebut, ACT memiliki 23.000 pucuk senjata api dan lebih dari 7.000 pemegang izin kepemilikan senjata api. Pernyataan itu tidak menyebutkan kapan program pembelian kembali di ACT akan dimulai. Kantor Albanese tidak segera menanggapi permintaan keterangan lebih lanjut.
Para pelaku bersenjata yang dituduh melakukan serangan di Bondi Beach—seorang ayah dan anak yang menurut polisi terinspirasi oleh kelompok Islamic State—menggunakan senjata api berkekuatan tinggi yang diperoleh secara legal. Tersangka yang selamat belum mengajukan pembelaan atas berbagai dakwaan yang dihadapinya, termasuk 15 dakwaan pembunuhan.
Pemerintah menyatakan bahwa Australia mencatat rekor kepemilikan 4,1 juta pucuk senjata api pada tahun lalu.
Program pembelian kembali ini akan menjadi yang terbesar di Australia sejak kampanye serupa dilakukan setelah peristiwa penembakan massal pada tahun 1996 di Port Arthur, Tasmania, yang menewaskan 35 orang.
Sumber : CNA/SL