New York | EGINDO.co – Dolar AS bangkit kembali dari penurunan sebelumnya dan mencatatkan kenaikan tipis pada hari Kamis, saat para pedagang menilai apakah upaya Departemen Keuangan AS untuk menahan imbal hasil (yield) obligasi jangka panjang akan berhasil.
Departemen Keuangan pada hari Rabu menyatakan akan melipatgandakan volume pembelian kembali (*buyback*) obligasi berjangka waktu 10 hingga 30 tahun menjadi setidaknya $4 miliar per operasi, sebagai upaya menstabilkan pasar yang sempat terguncang oleh kekhawatiran mengenai meningkatnya defisit fiskal AS.
Pengumuman tersebut memicu aksi jual tajam terhadap mata uang AS karena para pedagang khawatir bahwa, alih-alih imbal hasil jangka panjang naik untuk mencerminkan kondisi fiskal, tekanan akibat antisipasi defisit yang lebih besar justru akan tercermin dalam pelemahan dolar. Dinamika tersebut—yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai *debasement trade* (perdagangan akibat penurunan nilai mata uang)—juga telah mendorong harga emas dan bitcoin sebagai aset penyimpan nilai alternatif.
Namun, pasar merespons negatif langkah terbaru Departemen Keuangan tersebut pada hari Kamis, di mana imbal hasil kembali menanjak, ujar Sarah Ying, kepala strategi valuta asing di CIBC Capital Markets.
“Ini adalah langkah (Menteri Keuangan Scott) Bessent untuk menguji pasar, dan pasar memberikan perlawanan,” kata Ying. “Sangat mungkin kita akan melihat lebih banyak pengumuman semacam ini di masa mendatang, namun langkah tersebut tampaknya kurang meyakinkan bagi pasar, setidaknya untuk saat ini.”
Bessent pada hari Kamis mengatakan bahwa ia mungkin akan kembali meningkatkan volume pembelian kembali obligasi pemerintah, seraya menambahkan bahwa “imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental yang sebenarnya.”
Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang lain termasuk yen dan euro, naik 0,06 persen ke level 98,89, sementara euro turun 0,01 persen menjadi $1,1676. Sebelumnya, mata uang tunggal Eropa tersebut sempat mencapai level $1,171, angka tertinggi sejak 14 Mei.
Yen Jepang melemah 0,6 persen terhadap dolar AS menjadi 159,12 per dolar. Ini adalah kali kedua dalam beberapa minggu terakhir Bessent turun tangan untuk mencoba meredam pergerakan pasar, setelah sebelumnya bergabung dengan Jepang dalam intervensi pasar mata uang pada 31 Juli yang bertujuan membalikkan tren pelemahan yen ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar.
Waktu pengumuman pembelian kembali (*buyback*) pada hari Rabu tersebut mengejutkan banyak investor, karena muncul tak lama setelah pernyataan pendanaan ulang triwulanan Departemen Keuangan pada awal Agustus dan menjelang lelang obligasi tenor 20 tahun.
“Setidaknya dari segi waktu, hal itu tampak ganjil,” ujar Shaun Osborne, kepala strategi valuta asing di Scotiabank. “Pasar menarik kesimpulan yang tepat bahwa jika Departemen Keuangan tidak ingin pasar obligasi menanggung beban akibat kekhawatiran mengenai keberlanjutan kebijakan fiskal dan kredibilitas kebijakan The Fed, maka dolar-lah yang harus menanggungnya.”
Fokus Pada The FED
Para pedagang juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam simposium bank sentral di Jackson Hole akhir bulan ini, guna mencari petunjuk mengenai rencananya dalam mengatasi tingkat inflasi yang masih tinggi.
Warsh, yang mulai memimpin The Fed pada bulan Mei, sempat membuat pasar gelisah usai pertemuan bank sentral bulan Juli karena tidak memberikan banyak petunjuk mengenai bagaimana para pembuat kebijakan akan merespons tekanan harga yang terus berlanjut.
“Investor mungkin mengharapkan sesuatu yang lebih konkret dari Warsh, bukan sekadar pengulangan yang samar dan bersifat umum seperti pada konferensi pers FOMC bulan Juli, di mana ia banyak bicara namun tidak benar-benar menyampaikan poin penting,” kata Osborne.
Risalah pertemuan The Fed bulan Juli yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai inflasi meningkat bulan lalu; “beberapa” pembuat kebijakan menyatakan siap menaikkan suku bunga, sementara “banyak” di antaranya berpendapat bahwa kenaikan biaya pinjaman akan diperlukan jika inflasi tidak turun menuju target 2 persen yang ditetapkan bank sentral.
Pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 35 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, dan angka tersebut meningkat menjadi 67 persen untuk bulan Desember.
Mata uang poundsterling menguat 0,18 persen menjadi $1,3629 dan sempat menyentuh level $1,3659, angka tertinggi sejak 16 Februari.
Di pasar mata uang kripto, bitcoin naik 5 persen menjadi $72.524,54, level tertinggi sejak 1 Juni.
Sumber ; CNA/SL