DARI HATA KE PERADABAN: MEMBACA ULANG UMPAMA DAN UMPASA BATAK

OKE wilmar04a1b

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Peradaban tidak hanya diwariskan melalui benda, bangunan, atau peninggalan sejarah. Ia juga diwariskan melalui hata. Di dalam kata tersimpan pengalaman, nasihat, harapan, nilai, dan cara berpikir yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kebudayaan Batak Toba, umpama dan umpasa merupakan bagian penting dari warisan tersebut. Keduanya masih digunakan dalam komunikasi sosial dan berbagai peristiwa adat. Namun, karena begitu akrab, kita sering mengucapkannya tanpa lagi bertanya: apa maknanya, kapan digunakan, dalam konteks apa, dan apa relevansinya bagi kehidupan masa kini?

Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan bahasa. Ia menyentuh bagaimana suatu masyarakat menyimpan, mewariskan, dan memperbarui pengetahuan.

Umpama: pengalaman yang dipadatkan

Kajian mengenai peribahasa Batak telah berlangsung lama. CA van Ophuijsen menerbitkan Bataksche spreekwoorden en spreekwijzen pada 1893, sementara Umpama angka na masa di Habatahon terbit pada 1903. Keduanya menunjukkan bahwa umpama telah lama menjadi bagian dari tradisi bahasa dan sastra lisan Batak.

Umpama dapat dipahami sebagai ungkapan yang memadatkan pengalaman hidup ke dalam bahasa yang ringkas. Ia dapat menjadi nasihat, teguran, perbandingan, pengingat, maupun cara menyampaikan pandangan tanpa uraian panjang. Kekuatan umpama bukan hanya pada keindahan bahasa, tetapi pada pengalaman dan nilai yang dikandungnya.

Umpasa: kata yang bekerja dalam peristiwa

Umpasa memiliki karakter kepuisian dan fungsi sosial yang kuat. Penelitian Apul Simbolon, Bistok Sirait, dan Mangasa Silitonga, Peranan Umpasa dalam Masyarakat Batak Toba (1986), menunjukkan bahwa umpasa berkaitan dengan bentuk, isi, fungsi, pelestarian, serta kehidupan sosial masyarakat Batak Toba.

Karena itu, menyamakan umpasa begitu saja dengan “pantun Batak” tidaklah memadai. Umpasa bekerja dalam suatu peristiwa sosial. Ketika digunakan dalam adat, yang hadir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan hubungan antarpihak, nasihat, harapan, penghormatan, dan nilai yang hendak diteguhkan.

Dekat, tetapi tidak identik

Kita perlu berhati-hati membedakan keduanya. Tidak tepat secara mutlak mengatakan umpama adalah peribahasa dan umpasa adalah pantun. Keduanya memiliki wilayah yang berdekatan dan dalam praktik masyarakat tidak selalu dipisahkan secara tegas.

Secara umum, umpama lebih dekat dengan ungkapan pengalaman, nasihat, teguran, atau penilaian. Umpasa memiliki ciri kepuisian yang lebih kuat serta fungsi sosial yang menonjol, terutama dalam berbagai peristiwa kehidupan dan adat. Namun, batas itu bukan tembok. Tradisi lisan hidup melalui pemakaian manusia; kategori ilmiah seharusnya menjelaskan kenyataan, bukan memaksanya menjadi kaku.

Dari hata menuju peradaban

Di sinilah umpama dan umpasa penting bagi Batakologi. Studi Batak tidak cukup menginventarisasi istilah, adat, silsilah, atau benda budaya. Ia perlu membaca hubungan bahasa, teks, konsep, adat, struktur sosial, sejarah, praktik, kritik, transformasi, dan peradaban.

Kerangka ini dapat dirumuskan:

BAHASA → TEKS → KONSEP → ADAT → STRUKTUR SOSIAL → SEJARAH → PRAKTIK → KRITIK → TRANSFORMASI → PERADABAN.

Saya menyebutnya Batakologi Reformasi, bukan sebagai mazhab akademik yang telah mapan, melainkan sebagai kerangka pemikiran untuk membaca warisan Batak secara kritis, dinamis, dan terbuka terhadap perubahan.

Melestarikan kebudayaan tidak berarti membekukannya dalam bentuk masa lalu. Yang lama tidak otomatis benar hanya karena diwariskan leluhur; yang baru juga tidak otomatis baik karena disebut modern. Keduanya perlu diuji melalui pengetahuan, pengalaman, konteks, dan nilai.

Karena itu, pertanyaan kita bukan sekadar berapa banyak umpama dan umpasa yang masih kita hafal. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apakah kebijaksanaan yang tersimpan di dalamnya masih mampu membentuk manusia, memperbaiki relasi sosial, memperkuat tanggung jawab, dan memberi arah bagi generasi mendatang?

Jika jawabannya ya, kita tidak sekadar melestarikan kata-kata leluhur.

Kita sedang menghidupkan kembali daya peradaban yang tersimpan di dalam hata.

***

Scroll to Top