Nusa Tenggara Timur|EGINDO.co Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menimbulkan dampak kemanusiaan sekaligus tekanan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Hingga Jumat (21/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 78 orang, sementara sekitar 95 ribu warga masih berada di lokasi pengungsian.
Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), angka tersebut merupakan perkembangan terbaru dari penanganan bencana di NTT. Metro TV melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 78 orang berdasarkan data BNPB per 20 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB.
Tim SAR bersama unsur terkait masih melakukan pencarian dan penyisiran di sejumlah lokasi yang terdampak. Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan darurat, terutama untuk memastikan tidak ada lagi warga yang masih tertimbun atau membutuhkan pertolongan.
Besarnya jumlah pengungsi juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Kebutuhan makanan, air bersih, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara hingga distribusi bantuan harus dipenuhi di tengah kondisi sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan.
Aktivitas Ekonomi Warga Terganggu
Dari sisi ekonomi, bencana tersebut berpotensi menghambat aktivitas masyarakat, terutama perdagangan lokal, usaha mikro, pertanian, serta kegiatan ekonomi yang bergantung pada mobilitas warga.
Kerusakan rumah dan fasilitas umum membuat sebagian masyarakat kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber penghasilan. Kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan bantuan sosial dan memperbesar biaya pemulihan pemerintah dalam jangka menengah.
Dampak gempa juga tidak hanya dirasakan oleh sektor rumah tangga. Sejumlah fasilitas pendidikan dan infrastruktur ikut terdampak. NU Online melaporkan sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak gempa, dengan 502 sekolah mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas 61.741 siswa.
Pemerintah perlu memastikan proses pemulihan berjalan beriringan dengan penanganan darurat agar masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan ekonomi secepat mungkin.
Pemerintah Pastikan Kebutuhan Dasar Terpenuhi
Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat meninjau pengungsi di Kabupaten Sikka pada Kamis (20/8/2026) menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Pemerintah diminta memastikan makanan, air bersih, toilet, obat-obatan dan pelayanan kesehatan tersedia hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.
Pemerintah juga mulai mempersiapkan tahap pemulihan. Perbaikan rumah warga, sekolah dan fasilitas umum menjadi bagian penting agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
Dari sektor pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat terdampak gempa NTT tetap aman. Jaminan pasokan tersebut menjadi penting untuk menjaga stabilitas kebutuhan pokok selama masa tanggap darurat dan pemulihan.
Dengan jumlah pengungsi yang mencapai puluhan ribu orang, kelancaran distribusi bahan pangan dan kebutuhan pokok menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi ekonomi masyarakat NTT.
Tim SAR dan seluruh unsur penanganan bencana hingga kini masih melanjutkan tugas di lapangan. Sementara itu, pemerintah menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan bantuan tersalurkan sekaligus menyiapkan pemulihan infrastruktur dan ekonomi masyarakat yang terdampak gempa. (Sn)