Medan | EGINDO.com Sejumlah lembar uang lama dan perangko bergambar Bung Karno mungkin tampak seperti benda-benda yang kehilangan fungsi di tengah kehidupan modern. Nilainya tidak lagi ditentukan oleh daya belinya. Perangko pun perlahan kehilangan tempatnya di tengah kebiasaan berkirim pesan secara digital.
Namun, di balik kertas yang mulai menua itu tersimpan cerita besar tentang Indonesia. Cerita tentang sebuah bangsa yang baru merdeka, tentang pergulatan mempertahankan kemerdekaan, tentang perubahan politik, dan tentang sosok yang namanya melekat kuat dalam perjalanan republik yakni, Ir. Soekarno Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.
Cerita itu kembali dihadirkan di tengah peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia melalui Pameran Sosok Bung Karno sebagai Perekat Bangsa dalam Filateli dan Numismatik Indonesia, yang digelar di Perpustakaan Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, 17–19 Agustus 2026.
“Pameran ini bukan sekadar menghadirkan benda-benda koleksi dari masa lalu. Lebih dari itu, pameran menjadi sebuah cara untuk mengajak generasi hari ini berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan bangsa, dan bertanya: dari mana Indonesia yang kita kenal hari ini berasal?” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) dr Sofyan Tan, Senin (17/8).
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu menilai, bahwa dalam melihat sejarah bukan sebagai sesuatu yang cukup disimpan di buku pelajaran. Sejarah harus terus dihidupkan dan didekatkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Karena itulah, menurut Sofyan Tan, kehadiran pameran seperti yang dipersembahkan Universitas ST Bhinneka memiliki makna penting, bahwa uang dan perangko yang ditampilkan bukan sekadar benda lama, melainkan artefak yang merekam perjalanan sebuah bangsa. “Dari lembaran uang lama hingga perangko Bung Karno, saya berharap kita dapat menemukan kembali jejak sang perekat bangsa,” kata Sofyan Tan.
Bagi Sofyan Tan, setiap lembar uang dan perangko tersebut memiliki cerita yang merekam masa ketika kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan. Lalu ada pula masa ketika bangsa ini menghadapi berbagai pergolakan dan tantangan terhadap keutuhan negara. Dari rekaman perjalanan tersebut, hadir sosok Bung Karno yang memiliki posisi penting karena gagasan kebangsaan yang dibawanya mampu menjadi salah satu energi pemersatu masyarakat Indonesia yang sangat beragam.
Indonesia, kata dia, bukanlah bangsa yang lahir dari satu suku, satu agama, satu bahasa daerah, atau satu kebudayaan. Indonesia lahir dari keberagaman. Dalam konteks itulah, Bung Karno dipandang sebagai salah satu simbol penting dalam proses membangun kesadaran sebagai satu bangsa.
Menurut Sofyan Tan, gagasan persatuan tersebut semakin relevan untuk terus dibicarakan pada masa sekarang. Sebab, tantangan bangsa tidak selalu datang dalam bentuk perang atau konflik bersenjata.
Perbedaan identitas, polarisasi sosial, informasi yang tidak benar, serta melemahnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah juga dapat menjadi tantangan bagi persatuan bangsa. Karena itu, ia menilai merawat ingatan sejarah merupakan bagian dari menjaga Indonesia.
“Jangan sampai generasi muda mengenal Bung Karno hanya dari nama jalan, nama gedung, atau gambar di buku pelajaran. Mereka harus tahu mengapa Bung Karno penting dalam sejarah Indonesia dan apa yang bisa kita pelajari dari perjuangannya,” ungkapnya.

Pameran yang digelar Universitas Satya Terra Bhinneka mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda.
Sejarah tidak disampaikan hanya melalui teks panjang, tetapi melalui benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Lembaran uang yang dahulu digunakan masyarakat untuk bertransaksi kini menjadi saksi perjalanan republik. Perangko yang dahulu menjadi bagian dari komunikasi antarmanusia kini berubah menjadi dokumen visual yang merekam wajah dan simbol sebuah zaman.
Koleksi yang dipamerkan merupakan milik sejarawan sekaligus Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof. Phil. Ichwan Azhari. Koleksi tersebut memperlihatkan berbagai fase perjalanan Indonesia melalui lembaran uang dan perangko yang memiliki keterkaitan dengan Bung Karno. Di antaranya adalah koleksi Bung Karno dalam URIPS/ORIDA periode 1947–1949, uang era Republik Indonesia Serikat (RIS), uang Republik Indonesia periode 1945–1949 dan 1950–1966, serta uang pada era PRRI-Permesta. Pengunjung juga dapat melihat koleksi perangko bergambar Bung Karno, mulai dari era blokade/Wina tahun 1949, era Revolusi 1945–1949, hingga periode pascakemerdekaan 1950–1966.
Sofyan Tan memberikan apresiasi atas kesediaan sang sejarawan memamerkan koleksi pribadinya kepada masyarakat. Menurut dia, koleksi sejarah akan memiliki nilai yang jauh lebih besar ketika tidak hanya disimpan secara pribadi, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat.
“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Prof. Ichwan Azhari. Koleksi seperti ini sangat berharga, bukan karena usia bendanya, tetapi karena cerita yang dibawanya. Ketika koleksi itu dibuka untuk publik, maka sejarah menjadi milik bersama,” pungkasnya.@
Rel/Iqbal/timEGINDO.com