Seoul | EGINDO.co – Kantor kepresidenan Korea Selatan, Blue House, pada hari Senin (17 Agustus) menyatakan sedang meninjau komentar Presiden AS Donald Trump mengenai pengurangan skala latihan militer gabungan, seraya menambahkan harapan bahwa hubungan yang baik antara Washington dan Pyongyang dapat berujung pada pembicaraan yang bermakna.
Dalam sebuah pernyataan, Blue House mengatakan akan melanjutkan konsultasi diplomatik mengenai kerja sama militer AS-Korea terkait Selat Hormuz, sembari membahas perincian latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat.
Trump mengatakan ia telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi skala latihan militer yang dianggapnya “tidak pantas dan bermusuhan” dengan Korea Selatan, hanya beberapa jam sebelum latihan tersebut dimulai pada hari Senin. Ia merujuk pada “hubungan baik”-nya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan menyatakan ketidaksukaannya terhadap latihan yang dirancang sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan dari Pyongyang.
Karena latihan sudah terlambat untuk dibatalkan, Trump mengatakan ia telah memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “menguranginya secara signifikan”.
Blue House menyatakan pihaknya terus menjalin “koordinasi erat” dengan Washington terkait latihan tersebut, sementara kementerian pertahanan menyebutkan bahwa manuver militer telah dimulai sesuai dengan “pemberitahuan dan jadwal sebelumnya”.
Dalam pernyataan kepada AFP, pihak kantor kepresidenan menambahkan bahwa Seoul dan Washington “telah menjaga koordinasi erat dalam mempertahankan postur pertahanan gabungan yang kokoh serta dalam latihan dan pelatihan bersama, dan akan terus berkoordinasi secara erat”.
Kantor tersebut menyatakan “berharap hubungan bersahabat antara para pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara akan mengarah pada dialog yang bermakna”.
Kolonel Ryan Donald, juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, sebelumnya mengatakan bahwa latihan tersebut akan menyimulasikan pertempuran melawan pasukan Korea Utara yang telah berpengalaman dalam laga akibat penempatan mereka dalam perang Rusia-Ukraina.
Latihan yang melibatkan 18.000 tentara Korea Selatan dan rekan mereka dari pasukan AS di negara tersebut ini akan memberikan fokus lebih besar pada peperangan menggunakan pesawat nirawak (drone), gangguan GPS, dan peran serangan siber, tambahnya.
Sumber : CNA/SL