Iran Tantang AS di Selat, Trump Minta Warga Terima Harga Gas Tinggi

Iran menantang AS di Selat Hormuz
Iran menantang AS di Selat Hormuz

Cairo | EGINDO.co – Iran mendesak AS untuk mengakui kekalahan, sementara Presiden Donald Trump mengecam Iran sebagai pihak yang “jahat” dan meminta rakyat Amerika bersiap menghadapi harga bahan bakar yang terus tinggi.

Pernyataan-pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa kedua pihak yang bertikai masih memiliki perbedaan posisi yang sangat jauh; kemajuan menuju perundingan damai maupun lalu lintas kapal tanker minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz sama-sama terhenti.

“Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan akan kekalahan serta berhenti berkhayal, Iran akan terus memberlakukan blokade,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, dalam sebuah unggahan di X pada Sabtu dini hari (15 Agustus), yang menunjukkan minimnya urgensi untuk memulihkan perdagangan seperti sebelum perang.

“Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya dengan cuitan atau kapal induk, dengan mengeluarkan perintah, ataupun dengan pidato kampanye pemilihan umum,” tegasnya.

Sebelum AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, satu dari setiap lima barel ekspor minyak dunia melintasi selat tersebut.

Pada hari Jumat, Trump meminta rakyat Amerika untuk menerima harga bensin yang sedikit lebih tinggi selama konflik dengan Iran masih berlangsung.

Dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, Trump mengatakan bahwa membayar “sedikit lebih mahal untuk bensin” sepadan dengan upaya memastikan “negara yang sangat jahat” tidak memiliki senjata nuklir—yang merupakan salah satu alasan utama presiden tersebut melancarkan perang.

Dalam tren yang memicu inflasi dan mengecewakan para pemilih, harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$4,08 per galon pada hari Jumat, menurut American Automobile Association. Angka ini naik 29 persen dari US$3,16 pada tahun sebelumnya.

Hanya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada hari Jumat menurut analisis perusahaan pelacak kapal Kpler: sebuah kapal pengangkut biji-bijian yang memasuki perairan Iran dan sebuah kapal kargo curah kering (dry bulk) kosong yang bergerak ke arah sebaliknya.

Data tersebut juga menunjukkan adanya satu kapal tanker kosong pengangkut produk minyak cair (LPG) yang sedang berlayar memasuki Teluk melalui selat itu. Tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah.

Beberapa kapal mungkin melintasi selat tanpa terdeteksi dengan mematikan transponder mereka, namun jumlahnya jauh dari angka lebih dari 130 kapal yang melintasinya setiap hari sebelum perang.

Kapal-kapal yang nekat melintasi selat tanpa izin Iran berisiko terkena serangan rudal atau pesawat nirawak (drone). Abu Dhabi National Oil Company milik Uni Emirat Arab menyatakan bahwa dua kapalnya diserang saat melintasi selat tersebut pada Kamis malam, kemudian kantor berita negara UEA, WAM, melaporkan adanya serangan terhadap kapal lain pada hari Jumat.

Iran menyebut tindakannya mengatur lalu lintas selat sebagai blokade, sementara AS menggunakan istilah yang sama untuk ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang hendak meninggalkan pelabuhan mereka.

“Apa yang kami lakukan adalah layanan besar bagi dunia, bukan hanya untuk diri kami sendiri… dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa penugasan kapal induk AS selama 260 hari untuk mendukung upaya perang “masih jauh dari cukup.”

Dengan kesepakatan sementara bulan Juni untuk mengakhiri perang yang kini berantakan, tidak ada tanda-tanda bahwa AS atau Iran berencana melanjutkan pembicaraan damai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan belum ada keputusan yang diambil untuk memulai kembali negosiasi dengan Amerika Serikat, demikian dilaporkan kantor berita mahasiswa Iran (ISNA) pada hari Sabtu.

Mediator dari Qatar dan Pakistan terus menjalin kontak serta bertukar pesan dengan Iran, namun hal ini belum sampai pada tahap negosiasi, menurut laporan kantor berita tersebut.

Dampak Ekonomi

Kenaikan harga bahan bakar berbenturan dengan janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya energi, dan Partai Demokrat berupaya menjadikan dampak ekonomi akibat perang Iran sebagai isu dalam pemilihan umum sela bulan November.

Situasi selat yang praktis tertutup turut mendorong kenaikan harga minyak mentah berjangka sebesar US$1 per barel lagi pada hari Jumat. Harga minyak berjangka acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan kenaikan mingguan masing-masing sebesar 6,0 persen dan 5,4 persen.

Gharibabadi menyatakan bahwa Teheran tidak akan gentar menghadapi ancaman ataupun unjuk kekuatan. Namun, terdapat tanda-tanda adanya dampak ekonomi yang dirasakan Iran.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta sanksi atas ekspor minyak Iran sebagai penyebab tingginya inflasi.

Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent masing-masing berjanji untuk memberikan tekanan finansial lebih lanjut terhadap Iran.

Bessent mengatakan kepada program “Rob Schmitt Tonight” di saluran Newsmax pada hari Kamis bahwa pengumuman mengenai langkah-langkah tambahan terhadap Iran akan disampaikan pekan depan.

Serangan terbaru yang dilakukan oleh kelompok Houthi Yaman—yang didukung Iran—kembali memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan bahwa kelompok Houthi menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada hari Jumat, menewaskan empat warga sipil.

Secara terpisah, kantor berita SABA yang dikelola Houthi mengutip pernyataan sumber militer bahwa kelompok tersebut telah menargetkan fasilitas Aramco di kota Najran, Arab Saudi, menggunakan pesawat nirawak (drone).

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top