Pangkalpinang|EGINDO.co Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) secara resmi mengumumkan status siaga darurat kekeringan di wilayahnya. Keputusan ini diambil menyusul tren penurunan drastis intensitas curah hujan yang mulai melanda kawasan tersebut sejak awal Agustus 2026.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel, Slamet Supriyadi, mengungkapkan bahwa wilayah yang paling rentan terdampak krisis air bersih saat ini terkonsentrasi di tiga kabupaten, yakni Bangka Tengah, Bangka Selatan, dan Belitung.
“Penetapan status siaga ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dini, baik bagi jajaran pemerintah daerah maupun masyarakat luas, dalam mengantisipasi ancaman kekeringan akibat musim kemarau tahun ini,” ujar Slamet di Pangkalpinang, Selasa (11/8/2026).
Puncak Kemarau Tiba September
Berdasarkan analisis klimatologi terkini, BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di Kepulauan Babel akan terjadi pada September 2026. Fenomena cuaca ekstrem ini diperkirakan bakal terus berlangsung cukup panjang hingga awal tahun depan, yakni pada kisaran Januari hingga Februari 2027.
Slamet menjelaskan, mundurnya siklus pemulihan cuaca ini sangat dipengaruhi oleh dinamika fenomena global El Nino yang turut mendera wilayah kepulauan tersebut.
Imbauan Penggunaan Air dan Larangan Karhutla
Menghadapi potensi krisis air bersih, pihak BMKG melayangkan sejumlah instruksi penting kepada warga. Masyarakat diimbau untuk mengubah pola konsumsi air menjadi jauh lebih hemat dan bijak sehari-hari.
“Jika ketersediaan air di rumah mulai menipis, warga bisa memanfaatkan alternatif lain seperti meminta suplai air bersih melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta aktif menyiapkan wadah penampungan saat hujan turun,” tambahnya.
Selain krisis air, ancaman laten lain yang menyertai musim kemarau kering ini adalah tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG secara tegas memperingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan pertanian atau perkebunan baru dengan cara membakar.
Kombinasi cuaca kering, semak belukar yang rapuh, serta tiupan angin kencang selama musim kemarau dikhawatirkan dapat memicu eskalasi api yang sangat cepat dan mustahil dikendalikan.
“Selama musim kemarau yang disertai angin kencang ini, api akan sangat sulit dipadamkan jika menjalar di semak belukar maupun lahan kosong. Oleh karena itu, kami mohon ketegasan dan kesadaran bersama untuk sama sekali tidak melakukan pembakaran lahan,” pungkas Slamet. (Sn)