Tahiti | EGINDO.co – Juara dunia selancar 11 kali, Kelly Slater, membuktikan bahwa ia masih mampu bersaing dengan para peselancar terbaik di ajang Tahiti Pro pada hari Sabtu, dengan mencatatkan total skor tertinggi pada hari pertama di tengah ombak yang besar dan ganas.
Atlet berusia 54 tahun yang telah pensiun dari kompetisi penuh waktu pada tahun 2024 ini mencatatkan total skor gabungan dua ombak yang impresif, yakni 16,23 dari skala 20. Hasil ini membawanya melaju ke putaran kedua dan menghadapi duel sengit melawan juara dunia tiga kali asal Brasil, Gabriel Medina.
“Rasanya seperti kembali bersepeda, namun Anda sempat lupa betapa dahsyat dan menantangnya ombak Teahupo’o,” ujar Slater, yang telah memenangkan ajang ini lima kali dari 20 kali keikutsertaannya. “Kami tidak sempat menjajal ombak besar minggu ini, dan tiba-tiba saja harus langsung terjun kembali menghadapinya.”
Teahupo’o—yang secara harfiah berarti “dinding tengkorak”—merupakan lokasi penyelenggaraan cabang olahraga selancar Olimpiade Paris 2024 dan dikenal sebagai salah satu lokasi dengan ombak paling sempurna di dunia.
Namun, kondisi pada hari Sabtu itu jauh dari kata sempurna; gelombang besar yang tak beraturan serta angin kencang yang bertiup menyamping (cross-shore) membuat medan selancar yang memang sudah menantang itu menjadi jauh lebih sulit. Matthew McGillivray dari Afrika Selatan dan Ramzi Boukhiam dari Maroko sempat mengalami hantaman keras ombak saat berlaga di putaran pertama, sebelum akhirnya giliran Slater turun ke air untuk menghadapi Eli Hanneman dari Hawaii.
Di tengah ombak yang tingginya mencapai tiga kali lipat tinggi tubuh peselancar (triple-overhead), Slater tampil mendominasi. Ia mencetak skor nyaris sempurna, yaitu 9, berkat aksi *tube riding* (berselancar di dalam gulungan ombak) yang panjang dan dalam, lalu melengkapinya dengan skor 7,23 dari aksi *barrel* lain yang penuh gaya dan sarat teknik. Sementara itu, momen yang paling mencolok dari aksi Hanneman justru adalah insiden jatuh (*wipeout*) yang mengerikan; ia melompat dari puncak ombak raksasa dan terhempas hebat, hingga papan selancarnya tertancap pecahan karang. “Ombak di luar sana sangat dahsyat. Anda harus siap,” ujar Slater, yang memenangkan ajang tur dunia terakhir dari total 56 kemenangannya di Pipeline, Hawaii, pada tahun 2022.
Peselancar lokal asal Tahiti, Kauli Vaast—peraih medali emas Olimpiade di lokasi ini pada tahun 2024—juga tampil gemilang di tengah kondisi yang menantang tersebut sebelum kompetisi dihentikan, mengingat diperkirakan akan ada lebih banyak ombak besar dan kuat dalam beberapa hari mendatang.
Sumber : CNA/SL