Madrid | EGINDO.co – Spanyol pada hari Sabtu (8 Agustus) mulai melakukan pemeriksaan perbatasan terhadap pelancong yang tiba dari Italia, sebagai tanggapan atas langkah serupa yang diterapkan Roma menyusul lonjakan besar migran yang masuk ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta.
“Saya tidak melihat banyak unsur ‘diplomasi’ dalam keputusan-keputusan ini, baik dari pihak pemerintah Italia maupun pemerintah Spanyol,” ujar Maria Celeste Grillo, seorang wisatawan Italia berusia 36 tahun yang baru saja tiba di Madrid dengan pesawat.
Ia mengatakan tidak melihat adanya pemeriksaan tambahan saat turun dari pesawat, namun menganggap penerapannya sebagai hal yang “menyedihkan”.
Spanyol mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan melanjutkan langkah pengawasan yang diperketat tersebut, dengan alasan adanya “tekanan migrasi ilegal yang terus-menerus” yang dihadapi Italia—sebuah langkah yang memperdalam perselisihan saling balas antara sesama mitra UE dan sekutu NATO ini.
Pemerintah Spanyol yang berhaluan kiri mengeluhkan tindakan pemerintah Italia yang berhaluan kanan keras, yang pada 31 Juli secara tidak adil memberlakukan pemeriksaan perbatasan selama satu bulan bagi pelancong dari Spanyol—sehingga menangguhkan aturan perjalanan bebas visa di Wilayah Schengen UE—akibat lonjakan migran di Ceuta.
Lebih dari 70.000 migran menyeberang dari Maroko ke wilayah kantong tersebut pada tanggal 30 dan 31 Juli, meskipun hampir semuanya kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam.
Masuknya migran dalam jumlah besar ini membuat negara-negara Eropa khawatir, terutama pemerintah sayap kanan yang mendesak aturan lebih ketat terhadap migran ilegal. Namun, aturan terkait Ceuta berarti para migran tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daratan Eropa tanpa melewati lapisan pemeriksaan perbatasan lainnya.
Kepala urusan migrasi UE, Magnus Brunner, mengatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan menteri dalam negeri Spanyol maupun Italia pada hari Sabtu dan menyatakan bahwa “keduanya mengonfirmasi bahwa kontrol perbatasan internal tersebut bersifat sementara.”
“Saya menekankan kemajuan yang telah kami capai dalam menangani migrasi ilegal dan bahwa kepercayaan antarnegara anggota adalah aset paling berharga yang kita miliki,” tulis Brunner di platform X.
Sumber : CNA/SL