Malang, Jawa Timur | EGINDO.co – Otoritas Indonesia pada hari Jumat (7 Agustus) berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang melanda Taman Nasional Gunung Bromo di Pulau Jawa, menghanguskan lebih dari 120 hektare lahan, di tengah persiapan negara menghadapi musim kemarau ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino.
Kebakaran bermula pada hari Senin di dekat Gunung Bromo, Jawa Timur—salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia yang kini ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Otoritas setempat mengerahkan dua helikopter pengebom air (*water-bombing*) untuk memadamkan api yang sejauh ini telah menghanguskan setidaknya 127 hektare lahan taman nasional, ujar pejabat pemadam kebakaran Bambang Setyo Antoko kepada AFP.
Luas area yang terbakar tersebut setara dengan sekitar 180 lapangan sepak bola.
“Kami sangat bergantung pada kondisi angin,” kata Bambang mengenai upaya pemadaman yang akan dilakukan.
Pejabat taman nasional, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan bahwa lokasi kebakaran berada di kawasan tebing yang curam, sehingga menyulitkan petugas pemadam kebakaran untuk menjangkaunya.
Penyebab kebakaran belum diketahui, namun Bambang menyebutkan bahwa kondisi taman nasional sangat kering akibat dampak fenomena El Nino yang mulai terasa di Indonesia.
Gunung Bromo, yang terkenal dengan pemandangan vulkaniknya, sebelumnya juga pernah mengalami kebakaran pada tahun 2023.
Kebakaran saat itu dipicu oleh pasangan yang menyalakan suar (*flare*) saat sesi pemotretan pranikah, yang mengakibatkan hangusnya lebih dari 500 hektare lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah memperingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan lebih intens dan berlangsung lebih lama dari biasanya, dengan risiko kebakaran hutan dan kekeringan yang lebih tinggi, sebagian akibat pengaruh El Nino.
Menurut Kementerian Kehutanan, lebih dari 107.000 hektare lahan terbakar di Indonesia antara bulan Januari hingga Juni tahun ini; angka tersebut lebih dari dua kali lipat luas lahan yang hangus akibat kebakaran hutan pada tahun 2023.
Fenomena El Nino sebelumnya turut menjadikan tahun 2023 dan 2024 sebagai dua tahun terpanas yang pernah tercatat secara global.
El Nino adalah fenomena iklim alami yang menyebabkan perubahan pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di seluruh dunia.
Di India dan Asia Tenggara, fenomena ini biasanya menyebabkan kondisi cuaca yang lebih kering.
Sumber : CNA/SL