BRIN Ungkap Potensi Uranium dan Torium, Jadi Modal Strategis Pengembangan Energi Nuklir Nasional

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap besarnya potensi sumber daya mineral radioaktif yang dimiliki Indonesia sebagai fondasi pengembangan energi masa depan. Dalam pemaparan kepada Presiden Prabowo Subianto saat meninjau pameran hasil riset BRIN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026), BRIN menyebut Indonesia memiliki potensi uranium sekitar 89.000 ton dan torium sekitar 143.000 ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Potensi tersebut dinilai menjadi salah satu aset strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik serta dorongan menuju transisi energi rendah emisi. Pengembangan PLTN juga dipandang mampu menjadi sumber energi baseload yang stabil untuk menopang pertumbuhan industri dan perekonomian nasional dalam jangka panjang.

Dalam penjelasannya kepada Presiden, peneliti BRIN menerangkan bahwa riset teknologi nuklir yang dikembangkan lembaga tersebut tidak hanya diarahkan untuk sektor ketenagalistrikan. Pemanfaatan teknologi nuklir juga terus diperluas ke bidang pertanian, pangan, dan kesehatan, mulai dari peningkatan kualitas benih, pengawetan produk pangan, hingga pengembangan teknologi medis yang mendukung pelayanan kesehatan nasional.

Selain memaparkan potensi bahan baku nuklir, BRIN turut memperkenalkan berbagai inovasi energi yang dinilai memiliki peluang untuk dikomersialisasikan. Salah satunya adalah teknologi penyimpanan Compressed Natural Gas (CNG) bertekanan rendah yang dirancang sebagai alternatif energi yang lebih efisien, serta pengembangan biofuel dan bioetanol berbasis bahan baku domestik seperti sawit, sorgum, dan aren guna mendukung program pencampuran bahan bakar nabati nasional.

Dari perspektif ekonomi, pengembangan energi nuklir dan energi alternatif dinilai dapat memperkuat kemandirian energi Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Hilirisasi hasil riset juga berpotensi membuka investasi baru di sektor teknologi tinggi, menciptakan lapangan kerja berbasis inovasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Sejumlah pengamat energi juga menilai bahwa pengembangan PLTN memerlukan tahapan yang panjang, mencakup penyempurnaan regulasi, penguatan aspek keselamatan, kesiapan sumber daya manusia, hingga penerimaan masyarakat. Karena itu, keberadaan cadangan uranium dan torium menjadi salah satu modal awal yang penting, namun implementasinya tetap harus didukung kajian teknis, ekonomi, dan lingkungan yang komprehensif.

Informasi mengenai potensi uranium dan torium Indonesia juga diberitakan oleh sejumlah media nasional seperti CNBC Indonesia dan iNews.id, yang menyoroti kesiapan BRIN dalam mengembangkan teknologi nuklir sekaligus memanfaatkan riset tersebut untuk sektor non-energi, termasuk pangan dan kesehatan. (Sn)

Scroll to Top