Hong Kong | EGINDO.co – Sebagian besar pasar Asia merosot pada hari Kamis (6 Agustus), dengan perusahaan teknologi kembali berada di bawah tekanan setelah sempat bangkit selama empat hari di tengah kekhawatiran yang masih ada terkait kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, harga minyak naik meskipun Iran menyatakan sedang merampungkan kesepakatan dengan Oman terkait Selat Hormuz.
Para investor telah menikmati reli yang sangat dibutuhkan sejak hari Jumat, menyusul aksi jual saham teknologi selama sebulan yang memangkas valuasi hingga miliaran dolar akibat kekhawatiran mengenai besarnya dana yang digelontorkan perusahaan ke dalam kecerdasan buatan (AI).
Pemulihan ini bermula di Seoul—pasar yang paling terdampak aksi jual sejak Juni—di mana indeks melonjak hampir 18 persen pada akhir pekan lalu, dan produsen cip yang sebelumnya terpuruk, SK Hynix serta Samsung, mencatat kenaikan lebih dari 25 persen.
Hal ini memicu spekulasi bahwa minat terhadap sektor AI kembali muncul seiring para pedagang mulai memburu saham-saham berharga murah.
Namun, reli tersebut tampaknya mereda pada hari Kamis menyusul penurunan saham teknologi di Wall Street serta laporan kinerja keuangan yang mengecewakan dari raksasa AS, SanDisk dan Western Digital, yang kembali memicu kekhawatiran mengenai profitabilitas investasi AI.
Indeks Kospi Seoul sempat anjlok lebih dari lima persen, dipimpin oleh penurunan saham SK Hynix dan Samsung.
Indeks Nikkei Tokyo—indeks lain yang didominasi saham teknologi—turun sekitar dua persen; produsen cip Kioxia merosot lebih dari 10 persen dan Tokyo Electron turun tujuh persen. Raksasa investasi teknologi SoftBank, yang dijadwalkan merilis laporan keuangan pada hari Kamis, mencatat penurunan enam persen.
Aksi jual juga terjadi di Hong Kong, Wellington, dan Taipei, meskipun pasar Shanghai, Sydney, dan Singapura justru menguat.
Meski pergerakan Wall Street secara umum negatif, indeks Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan yang membawanya ke rekor penutupan tertinggi untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Meredanya ketegangan di Timur Tengah serta pernyataan dari Washington mengenai kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz turut mendukung pasar saham pekan ini dengan menekan harga minyak serta meredam kekhawatiran akan inflasi dan kenaikan suku bunga.
Namun, harga minyak pada kedua kontrak utama sempat naik tipis pada hari Kamis setelah Iran menyatakan telah menyepakati rute bersama Oman bagi kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut dan sedang memfinalisasi pengaturan pengelolaan bersama.
Sumber resmi yang memberikan keterangan kepada media Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat—menurut pandangan Teheran—untuk mengakhiri blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakamanan di Selat Hormuz masih ada akibat tindakan Amerika Serikat, khususnya blokade laut serta berbagai tindakan agresif dan mengancam lainnya terhadap Iran dan kepentingan-kepentingannya,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah IRNA.
Para investor sangat menantikan rilis data penting ketenagakerjaan AS pada hari Jumat, dengan harapan mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekonomi saat Federal Reserve merancang langkah selanjutnya terkait biaya pinjaman.
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor swasta AS pada bulan Juli berada jauh di bawah perkiraan, di mana industri seperti sektor rekreasi dan perhotelan justru mengurangi jumlah lapangan kerja.
Sumber : CNA/SL