Jakarta|EGINDO.co Penguatan fenomena El Nino pada 2026 diperkirakan menjadi tantangan baru bagi perekonomian Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Nino kini berada pada level kuat dengan indeks ENSO mencapai +1,59. Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah, terutama kawasan selatan Indonesia.
Fenomena iklim ini diperkirakan akan memberi tekanan pada berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, ketahanan pangan, penyediaan air bersih, energi, hingga aktivitas industri yang bergantung pada ketersediaan sumber daya air. Produksi pangan nasional juga berpotensi terpengaruh apabila kekeringan berlangsung lebih lama dari rata-rata klimatologis.
BMKG memproyeksikan curah hujan selama Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Wilayah yang diperkirakan merasakan dampak paling besar meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Sumatera bagian selatan. Sebaliknya, kawasan pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan yang signifikan karena memiliki karakteristik pola hujan yang berbeda.
Meski demikian, peluang mulai datangnya musim hujan pada pertengahan Oktober diperkirakan akan mengurangi pengaruh El Nino terhadap kondisi cuaca di Indonesia. BMKG juga memperkirakan fenomena tersebut masih berlangsung hingga sekitar Mei 2027, meski tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
Dari sisi ekonomi, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Risiko penurunan produksi tanaman pangan dapat berdampak pada stabilitas pasokan dan harga komoditas strategis. Selain itu, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan juga berisiko menambah biaya penanganan bencana, mengganggu aktivitas perkebunan, serta memengaruhi kualitas udara di sejumlah daerah.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah memperkuat upaya antisipasi melalui operasi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di bendungan serta mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan air bagi sektor pertanian, kebutuhan masyarakat, maupun pembangkit listrik.
Sejumlah lembaga juga menaruh perhatian terhadap dampak ekonomi fenomena iklim global tersebut. Bank Indonesia dalam berbagai publikasinya menilai gangguan cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pangan dan menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong inflasi dari kelompok bahan makanan. Sementara itu, CNBC Indonesia dalam sejumlah laporannya juga menyoroti bahwa penguatan El Nino berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, ketahanan pangan, serta aktivitas ekonomi yang bergantung pada kondisi cuaca.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar dampak El Nino terhadap perekonomian nasional dapat ditekan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi di tengah ancaman musim kemarau yang lebih panjang. (Sn)