Jakarta|EGINDO.co Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) terus mempercepat pembangunan extended concourse atau ruang multifungsi di Stasiun MRT Bundaran HI. Proyek senilai Rp148,2 miliar ini diproyeksikan menjadi penghubung bawah tanah yang mengintegrasikan sejumlah pusat bisnis dan kawasan komersial utama di Jakarta.
Koridor pejalan kaki tersebut akan menghubungkan Stasiun MRT Bundaran HI dengan Plaza Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski, Grand Indonesia, hingga Mandarin Oriental. Kehadiran fasilitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan mobilitas masyarakat, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Yulham Ferdiansyah Roestam, mengatakan proyek tersebut dirancang sebagai bagian dari pengembangan kawasan berbasis transportasi massal (Transit Oriented Development/TOD) yang terintegrasi.
“Multi-interkoneksi yang nantinya future connection-nya ke Hotel Indonesia Kempinski area, kemudian Grand Indonesia, dan juga Mandarin,” ujar Yulham saat meninjau pembangunan ruang multifungsi Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Yulham, fokus pekerjaan saat ini adalah penyediaan dua akses utama, yakni sisi barat yang mengarah ke Plaza Indonesia dan kawasan depan Hotel Hyatt, serta sisi timur menuju Hotel Pullman dan Wisma Nusantara. Sementara itu, koneksi lanjutan menuju Hotel Indonesia Kempinski dan Mandarin Oriental masih berada pada tahap penyempurnaan desain bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ruang multifungsi tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter dengan luas mencapai 4.200 meter persegi. Selain menjadi jalur penghubung bebas tarif (non-tapping area), lokasi ini juga akan difungsikan sebagai ruang publik untuk berbagai kegiatan dengan kapasitas sekitar 3.200 orang. Jalur bawah tanah itu dilengkapi sistem pendingin udara sehingga memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki yang berpindah antargedung maupun menuju stasiun MRT.
PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat progres pembangunan proyek kini telah mencapai 22 persen. Penyelesaiannya ditargetkan pada Juni 2027, bertepatan dengan peringatan 500 tahun Kota Jakarta.
Secara ekonomi, pembangunan infrastruktur ini diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, perhotelan, ritel, hingga pariwisata di kawasan Bundaran HI. Integrasi langsung antara transportasi publik dan pusat aktivitas bisnis diyakini mampu meningkatkan jumlah pengunjung sekaligus mendorong efisiensi mobilitas pekerja maupun wisatawan.
Bank Indonesia dalam berbagai kajiannya menyebut pembangunan infrastruktur transportasi yang terintegrasi dapat meningkatkan produktivitas ekonomi melalui penurunan biaya logistik dan waktu perjalanan. Sementara itu, Kementerian Perhubungan terus mendorong pengembangan jaringan transportasi massal yang saling terhubung guna meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan.
Stasiun MRT Bundaran HI sendiri merupakan salah satu stasiun tersibuk di jalur Utara–Selatan dengan rata-rata 450 ribu hingga 500 ribu penumpang setiap bulan. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat setelah MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI–Monas mulai beroperasi pada 2027.
Dengan hadirnya extended concourse, Bundaran HI diharapkan berkembang menjadi kawasan TOD yang semakin terintegrasi, meningkatkan nilai ekonomi kawasan, menarik investasi baru, serta memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat bisnis dan jasa nasional. (Sn)