Hari Hepatitis Sedunia 2026: Investasi Kesehatan Jadi Kunci Menekan Beban Ekonomi Akibat Hepatitis

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh setiap 28 Juli kembali menjadi pengingat penting bahwa hepatitis bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang besar apabila tidak ditangani secara serius. Penyakit yang menyerang organ hati ini dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan biaya pengobatan, hingga membebani sistem kesehatan nasional.

Hari Hepatitis Sedunia ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) pada 2010 setelah usulan yang diajukan Indonesia bersama Brasil dan Kolombia disetujui dalam Sidang World Health Assembly. Momentum tahunan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong percepatan upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan hepatitis di berbagai negara.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan lebih dari 28 juta penduduk Indonesia diperkirakan hidup dengan infeksi hepatitis B dan C. Namun, sebagian besar penderita belum mengetahui status kesehatannya sehingga belum memperoleh penanganan yang memadai. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi serius seperti sirosis hingga kanker hati yang membutuhkan biaya perawatan jauh lebih besar.

Dari sisi ekonomi, langkah pencegahan melalui vaksinasi, edukasi masyarakat, pemeriksaan dini, serta perluasan akses pengobatan dinilai jauh lebih efisien dibandingkan menanggung biaya akibat komplikasi penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa investasi pada program eliminasi hepatitis mampu memberikan manfaat jangka panjang, baik dalam menekan angka kematian maupun menjaga produktivitas masyarakat.

Sementara itu, Bank Dunia (World Bank) dalam berbagai kajiannya mengenai pembiayaan kesehatan menilai bahwa investasi pada layanan kesehatan preventif merupakan salah satu strategi penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu, pengendalian hepatitis dipandang tidak hanya sebagai agenda kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga daya saing ekonomi nasional.

Hepatitis sendiri merupakan peradangan hati yang umumnya disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Gejala yang sering muncul antara lain demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, serta kulit dan mata menguning. Pada kasus kronis, khususnya hepatitis B dan C, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati apabila tidak segera ditangani.

Melalui peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2026, pemerintah mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memanfaatkan program vaksinasi, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat target eliminasi hepatitis sekaligus mengurangi beban ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit ini di masa mendatang. (Sn)

Scroll to Top