“Danau Toba Menangis”: Saatnya Kembali ke Ekoteologi dan Etika Pemihakan

Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang
Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang 

Danau Toba bukan sekadar danau vulkanik terbesar di dunia. Bagi kami orang Batak, Toba adalah hula-hula ni debata, titipan Sang Pencipta. Tapi hari ini Toba sedang sakit. Bukan karena alamnya yang “murka”. Tapi karena cara kita memperlakukan alam.

  1. AKAR KERUSAKAN: Saat Manusia Lupa Jadi Penjaga

Mengutip semangat Ekoteologi dan Etika Pemihakan yang sudah lama disuarakan PGI, kerusakan ekologi di Indonesia khususnya di Kawasan Danau Toba hari ini berakar dari 3 penyakit:

Pertama, Teologi yang salah kaprah.

Kita menafsirkan “berkuasalah atas bumi” sebagai “eksploitasi sepuasnya”. Padahal mandat di Taman Eden jelas: menjaga dan memelihara. Akibatnya hutan lindung di Samosir, Humbang, Toba Samosir digunduli untuk sawit, jagung, dan vila.

Kedua, Etika Dominasi dan Etika Pemusnahan.

Alam diposisikan sebagai “objek”. Hutan = lahan. Danau = tempat pembuangan. Gunung = bahan tambang. Ketika alam hanya dilihat dari nilai ekonominya, maka muncullah praktik korupsi Sumber Daya Alam. Izin tambang, konsesi, hingga alih fungsi lahan terjadi bukan untuk kesejahteraan rakyat, tapi untuk segelintir elit. Hasilnya: sedimentasi, abrasi pantai danau, banjir bandang, dan tanah longsor yang kini jadi langganan di lereng-lereng Toba.

Ketiga, Solusi yang salah selama ini.

Selama ini kita mengobati dengan “tambal sulam”: tanam pohon seremonial, proyek pengerukan, relokasi korban bencana. Tapi tidak pernah menyentuh akarnya: cara pandang. Pembangunan masih berparadigma antroposentris – manusia pusat, alam budak. Belum lagi proyek “hijau” yang justru merusak karena tidak berbasis data geologi dan kearifan lokal.

  1. AKIBATNYA: RUMAH KITA RETAK

Danau Toba menyusut, airnya tercemar limbah, keanekaragaman hayati terancam. Masyarakat pesisir kehilangan mata pencaharian karena ikan berkurang. Bencana datang bertubi karena kita sendiri yang merusak “rumah tangga dunia”.

Ini bukan soal lingkungan saja. Ini soal keadilan. Korupsi SDA adalah bentuk ketidakadilan paling kejam: merampas masa depan anak cucu demi keuntungan hari ini.

  1. JALAN KELUAR: KEMBALI KE EKOTEOLOGI & PENGELOLAAN BASIS GEOPARK

Saya percaya, kunci pemulihan Toba ada di 2 hal: Pertobatan Teologi dan Aksi Geopark.

  1. Solusi Ekoteologi & Etika Teologi

Teologi  mengajarkan Sola Dei Gloria – Segala kemuliaan bagi Allah. Termasuk kemuliaan dalam ciptaan-Nya. Dari sinilah lahir:

  1. Etika Pemihakan/Afirmatif: Bergeser dari pengekploitasi menjadi penjaga, perawat, pemelihara. Gereja, kampus, dan komunitas harus jadi garda depan menyuarakan ini.
  2. Seluruh Ciptaan adalah Saudara: Danau, hutan, tanah, batu andesit Toba bukan “sumber daya” saja. Mereka sesama ciptaan yang punya hak untuk hidup.
  3. Mandat Budaya yang Benar: Bekerja dan mengelola alam bukan untuk menaklukkan, tapi untuk menumbuhkan kehidupan bersama.
  4. Solusi Praktis: Pengelolaan Lingkungan Basis Geopark

Inilah implementasi nyatanya. Geopark Kaldera Toba UNESCO punya 3 pilar yang sangat ekoteologis:

  1. Konservasi: Melindungi geowarisan, biodiversitas, dan budaya. Stop izin tambang dan alih fungsi di zona inti geopark. Ini bentuk “memelihara Taman Eden” versi Toba.
  2. Edukasi: Literasi ke sekolah, gereja, dan masyarakat bahwa menjaga Toba = ibadah. Seperti yang dilakukan HKBP dan GKI Papua dalam agenda JPIC.
  3. Pemberdayaan: Ekonomi masyarakat berbasis ekowisata, kopi, ulos, dan produk lokal. Bukan ekonomi ekstraktif yang merusak.

Geopark memaksa kita berpikir jangka panjang, berbasis ilmu, dan berpihak pada masyarakat lokal. Ini etika afirmatif dalam bentuk kebijakan.

PENUTUP

Bangsa ini tidak butuh lagi proyek besar. Bangsa ini butuh pertobatan besar. Pertobatan cara pandang terhadap alam. Jika PGI sudah sejak 1967 bersidang tentang “Tengoklah, Aku Jadikan Semuanya Baru”, maka sekarang giliran kita di Toba mewujudkannya.

Mari kita pindahkan Danau Toba dari ruang eksploitasi, ke ruang ibadah. Karena merawat Toba, adalah merawat iman kita. Horas, dan mauliate.

Dolok Pusuk Buhit, 26 Juli 2026

***

Penulis Wilmar Eliaser Simandjorang adalah Pegiat PS_GI, Konservasi & Literasi Geopark Kaldera Toba

Scroll to Top