Diakui Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Membuat Melonjak Konsumsi Pertalite

Antrean panjang konsumen BBM non-subsidi di SPBU Medan Johor pada Jum’at 17 Juli 2026 hingga ke badan jalan. (Foto: Fadmin Malau)
Antrean panjang konsumen BBM non-subsidi di SPBU Medan Johor pada Jum’at 17 Juli 2026 hingga ke badan jalan. (Foto: Fadmin Malau)

Jakarta | EGINDO.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi membawa perubahan pola konsumsi. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan PT Pertamina Patra Niaga memotret terjadi migrasi pembelian dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi, yakni Biosolar dan Pertalite.

Hal itu diakui Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengamini terjadi tren peningkatan konsumsi Biosolar dan Pertalite pasca kenaikan harga Jenis BBM Umum (JBU) seperti Pertamax dan Dex Series. Wahyudi mengungkapkan realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) atau minyak solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite. Hingga Juni 2026, penyaluran JBT minyak solar mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85% dari total kuota JBT minyak solar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 18,64 juta KL.

Sementara itu, realisasi penyaluran JBKP Pertalite mencapai 13,96 juta KL sampai dengan Juni 2026. Jumlah itu setara dengan 47,68% dari kuota JBKP pada APBN 2026, yang dialokasikan sebanyak 29,27 juta KL. “Masyarakat cenderung (beralih) yang semula menggunakan BBM non-subsidi menjadi subsidi,” kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, pasa Kamis 16 Juli 2026 lalu dimana katanya Pertamina Patra Niaga membeberkan data yang lebih rinci mengenai konsumsi BBM subsidi dan non-subsidi.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman menyampaikan realisasi penyaluran BBM pada bulan Juli untuk Pertalite dan Biosolar berada di atas rata-rata konsumsi normal, yakni 104% untuk Pertalite dan 105% untuk Biosolar.

Taufik meyakinkan bahwa ketersediaan BBM dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dia menggambarkan bahwa cadangan BBM nasional rata-rata berada di 14 hari – 40 hari, tergantung jenis BBM dan daerahnya. Sedangkan untuk Pertalite dan Biosolar terjaga di sekitar 15 hari.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen yang beralih ke BBM subsidi terpantau setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi. Eko menggambarkan proporsi Pertalite terhadap konsumsi bensin naik 4,9% dari 75,4% (Januari – Mei 2026) menjadi 80,3% (Juli). Sebaliknya, proporsi Pertamax turun 4,4% dari 23,2% menjadi 18,8%.

Data tersebut mengindikasikan setelah kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026, terjadi peralihan (shifting) ke Pertalite. Akibatnya, rerata penyaluran Pertalite pada bulan Juli meningkat 9,4% atau naik 7.129 KL per hari dibandingkan rerata normal. Berkebalikan dengan produk Pertamax Series (Pertamax, Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo) yang pada bulan ini telah mengalami penurunan hingga 18%.

Konsumsi produk Pertamax Series anjlok 4.476 KL per hari dibandingkan rerata normal. Pola serupa terjadi pada konsumsi BBM jenis gasoil atau diesel. Proporsi Biosolar terhadap total konsumsi gasoil naik 1,2% dari 93% (Januari – Mei 2026) menjadi 94,2% (Juli). Pada periode yang sama, proporsi Dexlite turun 0,6% dari 4,1% menjadi 3,5%. Sementara itu pada bulan Juli 2026, rerata penyaluran Biosolar melonjak 13,9% atau naik sebanyak 6.725 KL per hari dibandingkan rerata normal. Sementara itu, Dex Series (Dexliter dan Pertamina Dex) turun 6,4% atau menyusut 232 KL per hari dari rata-rata normal. Stok Aman, kata Taufik meyakinkan.@

Bs/timEGINDO.com

Scroll to Top