Medan | EGINDO.com – Mahasiswa ST Bhinneka meneliti ancaman penyakit yang terjadi pascabanjir di Kampung Lalang kota Medan Sumatera Utara (Sumut). Pasalnya karena ketika banjir berlalu justru berbagai ancaman kesehatan mulai bermunculan akibat lingkungan yang masih lembap, sumber air yang tercemar, serta kondisi sanitasi yang belum sepenuhnya pulih.
Untuk itu berangkat dari kondisi tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Satya Terra Bhinneka (USTB) melakukan penelitian mengenai dampak kesehatan pascabanjir di Kampung Lalang, Kota Medan.
Penelitian tersebut dilaksanakan oleh tim mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Satya Terra Bhinneka yang terdiri atas Angelita Putri, Marta Agustina, Naura Zakkyah, Octa Malinda Sihombing, Putri Sihombing, Risa Everani, Santa Mikhal, dan Sonia Melina di bawah bimbingan Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM.
Penelitian tentang Analisis Dampak Kesehatan Pascabanjir dan Intervensi Kebidanan di Wilayah Kampung Lalang yang merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat dengan dosen pembimbing penelitian, Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM, yang mengatakan bahwa penelitian tersebut bertujuan memotret kondisi kesehatan masyarakat setelah banjir sekaligus mengidentifikasi bentuk intervensi yang dapat dilakukan tenaga kebidanan dalam upaya pencegahan penyakit.
Katanya sering kali perhatian masyarakat hanya tertuju pada kerusakan fisik pascabanjir, padahal ancaman kesehatan justru mulai muncul ketika air sudah surut. “Melalui penelitian ini, kami ingin memberikan gambaran bahwa pemulihan kesehatan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam proses penanganan pascabencana. Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap 20 warga Kampung Lalang,” katanya menjelaskan.
Pendekatan tersebut dipilih agar data yang diperoleh tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga menggambarkan pengalaman langsung masyarakat dalam menghadapi dampak banjir terhadap kesehatan mereka. Hasil penelitian menunjukkan penyakit kulit menjadi keluhan yang paling banyak dialami warga. Sebanyak 13 responden mengaku mengalami gatal-gatal maupun gangguan kulit lainnya setelah banjir melanda kawasan tersebut. Selain itu, empat responden melaporkan mengalami diare yang diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas air bersih serta kondisi sanitasi lingkungan yang belum sepenuhnya kembali normal.
Dita Anggriani Lubis mengatakan temuan tersebut memperlihatkan bahwa proses rehabilitasi pascabanjir tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah, jalan, maupun fasilitas umum. Pemulihan kesehatan masyarakat harus berjalan seiring dengan pemulihan infrastruktur. Jika tidak menjadi perhatian, penyakit-penyakit yang muncul setelah banjir dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas.
Dijelaskannya bahwa profesi bidan memiliki peran yang tidak hanya terbatas pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga berkontribusi dalam upaya promotif dan preventif di tengah masyarakat. Bidan dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan air bersih yang aman, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga mengenali gejala awal penyakit agar masyarakat segera mendapatkan penanganan medis.
Selama proses penelitian berlangsung, tim juga menemukan tingginya partisipasi masyarakat Kampung Lalang. Warga tidak hanya bersedia menjadi responden, tetapi juga terbuka menceritakan berbagai persoalan yang mereka hadapi setelah banjir. Menurut Dita, keterbukaan masyarakat menjadi modal penting dalam menyusun rekomendasi intervensi kesehatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Ditambahkannya upaya pencegahan penyakit sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala penyakit setelah banjir. “Prinsipnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran penyakit pascabencana,” katanya menegaskan.@
Bs/fd/timEGINDO.com