Bendungan Meninting Beroperasi, Investasi Rp1,47 Triliun Dongkrak Produktivitas Pertanian di NTB

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah resmi menuntaskan pembangunan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan nilai investasi mencapai Rp1,47 triliun. Infrastruktur sumber daya air tersebut menjadi salah satu proyek strategis nasional yang diproyeksikan memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendukung pengelolaan air yang berkelanjutan.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan Bendungan Meninting dibangun untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan air nasional di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan.

Menurut Dody, pembangunan bendungan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan visi pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air sebagaimana tertuang dalam program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo melalui Asta Cita sangat jelas, yakni swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air yang memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar mampu memberikan manfaat maksimal bagi petani dan rakyat Indonesia,” ujar Dody dalam keterangan resmi yang diterima Kamis (16/7/2026).

Keberadaan Bendungan Meninting diperkirakan mampu meningkatkan intensitas tanam petani dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun. Pasokan air yang lebih stabil akan mendukung produktivitas sekitar 1.600 hektare lahan persawahan melalui jaringan irigasi sepanjang 26 kilometer.

Selain menopang sektor pertanian, bendungan tersebut juga memiliki fungsi pengendalian banjir sehingga dapat mengurangi risiko genangan di wilayah hilir ketika curah hujan tinggi. Pemerintah juga menilai infrastruktur itu menjadi solusi atas persoalan distribusi air yang selama ini memicu konflik antarkelompok masyarakat di kawasan Lombok Barat.

Dari sisi energi, Bendungan Meninting dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,8 megawatt (MW) serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 9,23 MW. Pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut diharapkan mampu mendukung bauran energi nasional sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan bendungan.

Pembangunan bendungan dinilai memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Bank Dunia (World Bank) dalam berbagai kajiannya menyebut investasi pada infrastruktur irigasi dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) menilai pengembangan infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah, mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan mulai beroperasinya Bendungan Meninting, pemerintah berharap produktivitas pertanian di Nusa Tenggara Barat terus meningkat, ketersediaan air baku semakin terjamin, risiko banjir dapat ditekan, serta aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian, semakin berkembang. Proyek ini juga diharapkan menjadi salah satu penopang pencapaian target swasembada pangan nasional dalam beberapa tahun mendatang. (Sn)

Scroll to Top