Penerimaan Pajak Menguat, Pemerintah Optimistis Laju Utang Tetap Terkendali

Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penguatan penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, menjadi faktor utama untuk menahan laju pertumbuhan utang pemerintah dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut Purbaya, kinerja penerimaan pajak pada semester pertama 2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan dengan pertumbuhan sekitar 24,6 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian tersebut dinilai menjadi fondasi yang kuat untuk memperbaiki kondisi fiskal hingga akhir tahun sekaligus menjaga rasio utang tetap berada di bawah proyeksi yang disampaikan S&P Global Ratings.

“Kalau tren ini bisa dipertahankan hingga akhir tahun, saya optimistis pertumbuhan utang pemerintah akan lebih rendah dibandingkan perkiraan S&P,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Selain meningkatkan penerimaan negara, pemerintah juga menyiapkan strategi diversifikasi pembiayaan guna menekan biaya bunga utang. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah penerbitan obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond, sehingga sumber pendanaan tidak hanya bergantung pada pasar berbasis dolar Amerika Serikat. Dengan diversifikasi tersebut, pemerintah berharap rata-rata imbal hasil (yield) surat utang dapat ditekan sehingga beban bunga lebih terkendali.

Di sisi lain, S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut mengingatkan bahwa peningkatan rasio utang dan pembayaran bunga terhadap penerimaan negara perlu terus diawasi. Jika utang pemerintah meningkat secara konsisten melebihi ambang yang diproyeksikan atau rasio pembayaran bunga bertahan di level tinggi dalam jangka panjang, hal itu berpotensi memengaruhi peringkat kredit Indonesia.

Sejumlah lembaga juga menilai bahwa ruang fiskal Indonesia masih relatif terjaga, namun konsistensi reformasi penerimaan negara menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Reuters melaporkan bahwa penguatan penerimaan pajak dan disiplin pengelolaan APBN menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam menilai prospek ekonomi Indonesia. Sementara itu, Bloomberg menyoroti pentingnya diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar obligasi berbasis dolar di tengah dinamika suku bunga global.

Dengan kombinasi peningkatan penerimaan pajak, pengelolaan defisit yang terukur, serta diversifikasi instrumen pembiayaan, pemerintah optimistis stabilitas fiskal tetap dapat dipertahankan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah. (Sn)

Scroll to Top