Jakarta | EGINDO.com – Inisiatif “Menjaga Rumah Terakhir Orangutan Kalimantan Barat” merupakan gerakan kolaboratif dari Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas bersama mitra LSM dan akademisi untuk melindungi populasi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Fokus utamanya adalah perlindungan habitat dan mitigasi konflik satwa di lanskap hutan.
Ditengah laju pembangunan dan ekspansi lanskap produksi di Kalimantan Barat, ada cerita lain yang jarang terdengar kisah tentang upaya menjaga salah satu spesies paling ikonik di dunia, yaitu orangutan borneo. Puluhan pemangku kepentingan berkumpul di Pontianak.
Pertemuan itu bukan sekadar forum diskusi biasa, tetapi menjadi titik temu antara ilmu pengetahuan, kepentingan pembangunan, dan harapan untuk masa depan yang lebih seimbang bagi manusia dan alam. Diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pakar orangutan dari Forum Konservasi Orangutan Indonesa, WWF Indonesia, dan lembaga swadaya masyarakat lainnya, serta sektor swasta termasuk perusahaan seperti PT Daya Tani Kalbar (DTK), PT Buana Megatama Jaya (BMJ), PT Asia Tani Persada (ATP), PT Wanakerta Ekalestari (WEL), dan PT Finnantara Intiga (FI) yang turut berpartisipasi aktif dalam diskusi.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan komitmen berbagai pihak ditengah meningkatnya tantangan terhadap kelestarian orangutan, terutama akibat perubahan lanskap dan tekanan terhadap habitat alami. Kalimantan Barat sendiri merupakan salah satu wilayah kunci bagi kelangsungan hidup orangutan, dengan sebaran populasi yang berada dalam berbagai bentang alam yang terus mengalami dinamika penggunaan lahan.
Dalam konteks tersebut, pertemuan ini menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada perlindungan spesies, tetapi juga pada pengelolaan lanskap secara berkelanjutan. RM Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, dalam acara ini menjelaskan upaya ini menjadi penting mengingat sebagian besar data yang digunakan selama ini masih mengacu pada kajian sebelumnya, sehingga diperlukan pembaruan untuk mencerminkan kondisi lapangan saat ini.
Widodo mengatakan melalui kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen dalam pelestarian orang utan Kalimantan Barat melalui sinergi multipihak dan pemutakhiran data konservasi. Disisi lain, forum juga mengangkat berbagai tantangan nyata yang dihadapi di lapangan, mulai dari hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik antara manusia dan satwa, hingga ancaman perdagangan ilegal. Isu-isu tersebut menunjukkan bahwa konservasi orangutan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan integrasi kebijakan dan aksi di tingkat tapak yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Diskusi yang berlangsung membuka ruang bagi pertukaran data, pengalaman, serta praktik terbaik dalam mengelola kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat orangutan. Partisipasi sektor swasta dalam pertemuan ini mencerminkan semakin kuatnya kesadaran bahwa keberlanjutan operasional perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan.
Edi Rustadi Setiadharma, Forest Conservation PT Asia Tani Persada menyampaikan bahwa keterlibatan dalam forum ini merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan perlindungan lingkungan. “Kami menyadari bahwa keberadaan orangutan dan habitatnya merupakan bagian dari lanskap kerja kami, sehingga upaya perlindungannya harus menjadi bagian dari praktik pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Edi Rustiadi.
Melalui sebuah pertemuan yang menjadi titik temu berbagai kepentingan, para pemangku kepentingan sepakat memperkuat koordinasi lintas sektor dan merancang langkah konservasi jangka panjang yang terjalin dalam satu visi terpadu. Seperti jaringan alami di dalam hutan tropis, kolaborasi ini diharapkan berkembang menjadi sistem yang kokoh ditopang oleh forum komunikasi di tingkat tapak dan basis data bersama yang hidup dan dapat diakses sehingga setiap upaya konservasi bergerak dengan arah yang jelas dan dampak yang terukur.
Lebih dari sekadar melindungi satu spesies, menjaga orangutan berarti merawat denyut kehidupan hutan itu sendiri, tempat mereka menjadi penabur benih yang memastikan regenerasi dan kelangsungan ekosistem. Dari sinilah, keberlanjutan sumber daya alam dan kesejahteraan manusia bertaut erat. Dengan sinergi yang kian menguat antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, konservasi orangutan di Kalimantan Barat diharapkan tidak hanya menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.@
App/fd/timEGINDO.com