Medan | EGINDO.com – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan menegaskan bahwa membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap jenjang pendidikan. Menurutnya, guru harus memahami karakteristik perkembangan peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung secara humanis dan efektif.
Hal itu dijelaskan Sofyan Tan pada Sabtu (11/7/2026) dengan fasih dan mendetail saat menjadi keynote speaker dalam acara Workshop Pendidikan bertema Membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Melalui Pendekatan yang Humanis yang diselenggarakan Kemendikdasmen RI dan Komisi X DPR RI di Hotel Le Polonia, Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Menurut Sofyan Tan, untuk jenjang PAUD dan TK guru dituntut membangun ikatan emosional yang kuat dengan peserta didik. Pada usia dini, anak masih berada pada tahap perkembangan yang cenderung egosentris sehingga lebih banyak melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
“Anak PAUD dan TK itu lebih tinggi ‘aku-nya’ dari pada ‘dikau’. Artinya dia selalu mengedepankan apa mau dirinya, dan kalau tidak terpenuhi dia nangis,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) itu mengungkapkan.
Dengan demikian, anak PAUD dan TK membutuhkan kasih sayang, perhatian, serta kedekatan emosional. Pendekatan yang hangat melalui sentuhan yang aman, sapaan, senyuman, dan penguatan positif jauh lebih efektif.
Memasuki jenjang sekolah dasar, kata Sofyan Tan, perkembangan anak mulai berubah. Mereka mulai memahami aturan, tanggung jawab, serta mampu bekerja sama dengan teman. Karena itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan memberi teladan melalui pembiasaan karakter.

Sementara itu, tantangan terbesar justru muncul pada jenjang SMP dimana siswa pada umumnya sedang mengalami masa pubertas. Perlakuan treatmentnya berbeda. Sofyan Tan mengingatkan kerusuhan yang terjadi saat aksi Agustus 2025 lalu, ternyata ada pengerahan massa dari kelompok anak SMP. Karena mereka lebih mudah digerakkan dan gampang meledak-ledak jika diprovokasi serta ada yang mengajarkan bahwa mereka jika ditangkap tidak bisa dihukum mengingat masih di bawah umur.
Perlakuan untuk anak SMP harus berbeda, jangan dimarahi atau dipermalukan di depan teman-temannya. Jika melakukan kesalahan, panggil secara pribadi, ajak berbicara dari hati ke hati. Pendekatan humanis jauh lebih efektif dibandingkan memarahi mereka di depan umum karena justru dapat memunculkan penolakan dan perlawanan.
Pada jenjang SMA, lanjut Sofyan Tan, dunianya mulai masuk pada tahap idealisme dan romantisme, jadi guru harus bisa sebagai mentor, dan konselor yang baik, serta rekan yang bisa mengarahkan. “Oleh sebab itu, peran guru tidak lagi sekadar sebagai pengajar, tetapi juga mentor, fasilitator, sekaligus konselor yang mampu mendengarkan dan mengarahkan potensi peserta didik,” jelasnya.
Sofyan Tan menegaskan bahwa pendekatan humanis merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari bangunan gedung yang bagus dan megah, tetapi dilihat dari kemampuan sekolah membentuk karakter, empati, dan budaya saling menghargai di antara seluruh warga sekolah. Sofyan Tan juga menekankan pentingnya guru dan siswa yang merasa aman dan nyaman serta diperlakukan manusiawi. Terutama gurunya aman dan nyaman tidak diteror oleh orangtua, pihak yayasan dan pihak eksternal lain apalagi sampai dilaporkan ke kepolisian hanya gara-gara menegakkan disiplin siswa.
Sofyan Tan juga mendorong sekolah membangun komunikasi yang positif dengan orang tua. Menurutnya, orang tua tidak seharusnya dipanggil hanya ketika anak melakukan pelanggaran. “Kalau anak berprestasi, orang tua juga perlu diundang untuk menerima kabar baik dan memberikan apresiasi. Dengan begitu, orang tua akan merasa dihargai dan terdorong untuk terus mendukung perkembangan anak,” kata Sofyan Tan menegaskan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Dr. Iwan Junaidi, M.Pd mengingatkan bahwa seluruh sekolah akan melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai Senin mendatang. Ia meminta para guru menyosialisasikan berbagai program prioritas Kemendikdasmen kepada peserta didik, khususnya Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Iwan juga menekankan pentingnya keberadaan guru wali yang mendampingi peserta didik secara berkelanjutan sejak awal hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah. Menurutnya, sistem tersebut diharapkan mampu membangun kedekatan emosional sehingga berbagai persoalan siswa dapat dideteksi dan diselesaikan lebih dini.
Selain itu, pemerintah terus menjalankan program revitalisasi sekolah untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak, atap yang bocor, laboratorium yang belum memadai, serta kekurangan ruang belajar. Program tersebut ditargetkan mampu mengurangi secara signifikan jumlah sekolah yang mengalami kerusakan hingga 2028.
Workshop tersebut turut dihadiri Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Julian Hendri Sembiring, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Mujiono, serta para narasumber Samsuar Sinaga, Zainuddin Abuhamid Muhammad Ghozali, dan Rezeki Lumban Toruan.@
Rel/fd/timEGINDO.com