Jakarta|EGINDO.co Proyek pembangunan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta Fase 1B mencatatkan pencapaian krusial. Struktur rel yang menghubungkan Velodrome menuju Manggarai kini telah terhubung sepenuhnya (100%), menandai berakhirnya fase konstruksi paling berat dalam proyek strategis ini.
Dengan rampungnya interkoneksi jalur layang tersebut, fokus pengerjaan kini bergeser pada finalisasi detail arsitektural stasiun, pemasangan sistem persinyalan, serta pengujian kelaikan operasional. Pemerintah menargetkan moda transportasi massal modern ini dapat mulai melayani masyarakat secara komersial pada Agustus 2026.
Tantangan Konstruksi di Atas Jalur Padat
Menghubungkan jalur sepanjang 6,4 kilometer ini bukan perkara mudah. Titik paling krusial berada di kawasan Manggarai, di mana konstruksi harus dibangun tepat di atas jalur kereta api aktif (Double-Double Track/DDT) yang memiliki frekuensi perjalanan sangat tinggi.
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin, mengonfirmasi bahwa area Manggarai sejak awal menjadi zona dengan tingkat kerumitan tertinggi.
“Tersambungnya koridor Velodrome–Manggarai hingga 100% ini menjadi bukti keberhasilan tim mengatasi tahapan konstruksi yang paling menantang. Kami harus bekerja dengan presisi tinggi di atas jalur kereta eksisting yang padat tanpa mengganggu mobilitas harian kereta komuter,” jelas Iwan dalam keterangan resminya, Kamis (9/7/2026).
Integrasi Antarmoda dan Target 80 Ribu Penumpang
Kehadiran LRT Fase 1B diproyeksikan menjadi tulang punggung baru bagi mobilitas warga ibu kota, di mana rute ini ditargetkan mampu mengangkut hingga 80.000 penumpang per hari. Berdasarkan catatan dari Kompas.com dan Antara News, koridor Velodrome–Manggarai ini dinilai sebagai jembatan krusial yang menghubungkan wilayah Jakarta Timur langsung ke pusat ekonomi serta transit utama di Jakarta Selatan. Keberadaan jalur ini diprediksi mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan dibandingkan moda transportasi darat konvensional, sekaligus memperkuat ekosistem transportasi hijau di Jakarta setelah melewati berbagai dinamika teknis di lapangan.
Kunci utama dari tingginya target keterangkutan ini adalah integrasi antarmoda yang matang di Stasiun Sentral Manggarai. Nantinya, pengguna jasa LRT dapat langsung berpindah ke berbagai moda transportasi strategis:
-
KRL Commuter Line (rute Bogor, Bekasi, dan Urban)
-
KA Bandara Soekarno-Hatta
-
Layanan Bus Transjakarta
Selain mempermudah perpindahan penumpang, kawasan di sekitar stasiun-stasiun baru LRT Jakarta juga tengah dipersiapkan untuk dikembangkan menjadi Kawasan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini memadukan hunian, area komersial, dan akses transportasi publik dalam satu zonasi yang ramah pejalan kaki guna menekan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. (Sn)