Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Memperkuat paradigma UNESCO Global Geopark untuk Konservasi, Edukasi, dan Kesejahteraan Masyarakat. Pencapaian Green Card oleh Toba Caldera UNESCO Global Geopark pada tahun 2025 merupakan sebuah tonggak penting yang patut disyukuri. Setelah melalui proses evaluasi yang ketat, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan Toba Caldera kembali memperoleh kepercayaan internasional sebagai kawasan yang memiliki warisan geologi bernilai global. Namun, keberhasilan tersebut hendaknya dipahami sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar, bukan sebagai garis akhir.
Status UNESCO Global Geopark bukanlah penghargaan yang bersifat permanen, melainkan amanah yang harus terus dibuktikan melalui peningkatan kualitas konservasi, pendidikan, penelitian, tata kelola, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan Green Card, melainkan mentransformasikannya menjadi “Green Toba”—sebuah kondisi di mana manfaat keberadaan Geopark benar-benar dirasakan oleh masyarakat di tujuh kabupaten kawasan Kaldera Toba.
Momentum penyelenggaraan GeoFest ke-7 Tahun 2026 menjadi kesempatan strategis untuk menunjukkan bahwa Toba Caldera UNESCO Global Geopark tidak hanya berhasil memenuhi indikator evaluasi UNESCO, tetapi juga mampu menjadi model pembangunan kawasan yang berkelanjutan.
Mengembalikan Ruh Geopark yang Sesungguhnya
Dalam berbagai pedoman UNESCO, UNESCO Global Geopark bukan dibangun sebagai program pariwisata. Geopark merupakan konsep pembangunan wilayah yang mengintegrasikan konservasi warisan geologi, pendidikan, penelitian, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Pariwisata hadir sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat tujuan tersebut, bukan menjadi tujuan utama.
Karena itu, paradigma yang perlu terus diperkuat adalah bahwa kegiatan Geopark tidak seharusnya mendompleng program pariwisata, melainkan justru pariwisata yang tumbuh sebagai bonus dari keberhasilan pengelolaan Geopark.
Apabila konservasi berjalan baik, geosite terawat, interpretasi ilmiah berkualitas, masyarakat memperoleh ruang sebagai pelaku utama, budaya lokal semakin lestari, dan pendidikan kebumian berkembang, maka daya tarik wisata akan tumbuh secara alami. Sebaliknya, apabila kegiatan Geopark hanya diarahkan sebagai agenda promosi wisata, maka terdapat risiko bergesernya orientasi dari pelestarian menuju seremonial, dari pendidikan menuju hiburan, dan dari keberlanjutan menuju pencapaian jangka pendek.
Dalam konteks UNESCO Global Geopark, ukuran keberhasilan bukanlah semata-mata meningkatnya jumlah wisatawan, tetapi meningkatnya kualitas konservasi, bertambahnya pengetahuan masyarakat, berkembangnya penelitian, tumbuhnya ekonomi lokal yang adil, serta semakin kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap warisan bumi yang mereka tempati.
Dengan demikian, pariwisata merupakan multiplier effect, bukan fondasi utama Geopark. Fondasi Geopark tetaplah konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.
Empat Langkah Strategis Menuju Green Toba
Berangkat dari paradigma tersebut, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu terus diperkuat bersama.
- Mengembalikan Poros Kegiatan ke Lanskap Geopark
Masih banyak kegiatan Geopark yang dilaksanakan di ruang-ruang pertemuan dan ballroom hotel. Fasilitas tersebut memang diperlukan untuk kegiatan tertentu, namun pengalaman utama Geopark seharusnya berlangsung di lanskapnya sendiri.
Geosite, air terjun, kaldera, desa budaya, jalur geotrail, kawasan konservasi, hingga daerah aliran sungai merupakan ruang belajar terbaik untuk memahami hubungan antara bumi, alam, dan manusia.
Demikian pula program penghijauan hendaknya diarahkan pada kawasan-kawasan prioritas konservasi yang memiliki nilai ekologis tinggi dan disertai dengan rencana pemeliharaan yang berkelanjutan. Penanaman pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari strategi pemulihan ekosistem.
- Memastikan Ekonomi Geopark Menjadi Milik Masyarakat
Esensi Geopark adalah menciptakan kesejahteraan melalui pelestarian.
Karena itu, GeoFest harus menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. UMKM dari tujuh kabupaten perlu memperoleh kesempatan yang lebih luas sebagai pelaku utama, bukan hanya sebagai pelengkap acara.
Peran penyelenggara dan Event Organizer seyogianya menjadi fasilitator yang mempertemukan produk masyarakat dengan pasar. Nilai tambah ekonomi harus kembali kepada masyarakat melalui penjualan produk lokal, jasa pemandu, homestay, kuliner, kerajinan, ekonomi kreatif, dan layanan wisata berbasis komunitas.
Semakin besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat, semakin kuat pula komitmen mereka untuk menjaga warisan geologi, alam, dan budaya.
- Membangun Pusat Informasi pada Lanskap Warisan Geologi
Interpretasi merupakan jantung sebuah UNESCO Global Geopark.
Karena itu, pembangunan Pusat Informasi Geopark idealnya berada pada kawasan yang secara langsung memiliki hubungan dengan lanskap geologi Toba, sehingga pengunjung memperoleh pengalaman belajar sejak pertama kali memasuki kawasan.
Pusat informasi tidak hanya menjadi tempat memperoleh brosur atau informasi wisata, tetapi juga menjadi pusat interpretasi ilmiah, pendidikan kebumian, riset, dokumentasi, dan pembelajaran bagi masyarakat, pelajar, peneliti, maupun wisatawan.
- Memperkuat Budaya Profesionalisme dan Integritas
Kepercayaan internasional dibangun bukan hanya melalui dokumen, tetapi melalui budaya kerja. Komitmen penyelenggara tercermin dari kehadiran para pemangku kepentingan sesuai tanggung jawabnya, keterbukaan dalam pengambilan keputusan, konsistensi pelaksanaan program, serta disiplin terhadap waktu.
Kegiatan yang dimulai tepat waktu, pelaksanaan yang sesuai rencana, dan kehadiran pimpinan dalam momentum-momentum penting bukan sekadar persoalan etika organisasi, melainkan wujud penghormatan kepada masyarakat, mitra kerja, akademisi, investor, dan jejaring UNESCO.
Budaya profesional seperti inilah yang akan memperkuat kredibilitas Toba Caldera UNESCO Global Geopark di mata dunia. Green Card Harus Berubah Menjadi Green Toba Green Card adalah pengakuan administratif atas capaian pengelolaan. Namun, Green Toba adalah keberhasilan nyata yang dirasakan masyarakat.
Green Toba ditandai oleh geosite yang semakin lestari, lingkungan yang semakin hijau, masyarakat yang semakin sejahtera, generasi muda yang memahami warisan geologi, penelitian yang berkembang, UMKM yang bertumbuh, serta kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat adat.
Keberhasilan sebuah UNESCO Global Geopark pada akhirnya tidak diukur dari seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dari seberapa besar perubahan positif yang dihasilkan bagi kawasan dan masyarakatnya.
Penutup: Never Ever Give Up
GeoFest 2026 hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai laboratorium pembangunan berkelanjutan yang menunjukkan kepada dunia bahwa Toba Caldera UNESCO Global Geopark mampu mengelola warisan bumi secara bertanggung jawab.
Sudah saatnya kita memperkuat orientasi bersama: Dari seremoni menuju substansi. Dari ballroom menuju lanskap. Dari promosi wisata menuju konservasi berbasis ilmu pengetahuan. Dari ketergantungan kepada penyelenggara menuju pemberdayaan masyarakat.
Dari Green Card menuju Green Toba.
Dengan semangat Never Ever Give Up, serta komitmen untuk menjaga keseimbangan antara konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat, kita dapat mewujudkan Toba Caldera UNESCO Global Geopark sebagai warisan dunia yang tidak hanya diakui UNESCO, tetapi juga dicintai, dipelihara, dan memberikan manfaat nyata bagi lebih dari setengah juta masyarakat yang hidup di kawasan Kaldera Toba. Jaga Bumi. Lestarikan Warisan. Menginspirasi Generasi. Horas.@
***
Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI)