Ekspor CPO Jadi Penopang, Besi Baja dan Batu Bara Masih Melemah

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Kinerja ekspor komoditas unggulan Indonesia menunjukkan tren yang beragam pada periode Januari hingga Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya komoditas crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya yang berhasil membukukan pertumbuhan, sementara ekspor besi baja dan batu bara masih mengalami kontraksi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa nilai ekspor CPO dan turunannya meningkat 7,71 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, nilai ekspor besi dan baja turun 1,61 persen, sedangkan batu bara terkoreksi 4,95 persen.

“Nilai ekspor besi dan baja turun 1,61 persen secara kumulatif. Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 7,71 persen, sedangkan nilai ekspor batu bara turun 4,95 persen secara kumulatif,” ujar Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (1/7/2026).

Sepanjang Januari–Mei 2026, nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai US$9,59 miliar, naik dari US$8,90 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didukung oleh peningkatan volume ekspor menjadi 8,92 juta ton, atau tumbuh 7,41 persen secara tahunan.

Di sisi lain, ekspor besi dan baja masih menjadi kontributor terbesar bagi ekspor nonmigas nasional dengan nilai US$11,42 miliar, meskipun turun dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor batu bara tercatat sebesar US$9,75 miliar, lebih rendah dibandingkan capaian Januari–Mei 2025 yang mencapai US$10,26 miliar.

Data BPS menunjukkan bahwa ketiga komoditas tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 27,92 persen terhadap total nilai ekspor nonmigas Indonesia selama lima bulan pertama tahun 2026. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor kelapa sawit masih menjadi penopang utama di tengah melemahnya permintaan terhadap sejumlah komoditas tambang dan logam.

Sejumlah media ekonomi nasional, seperti Bisnis Indonesia dan Kontan, juga menyoroti bahwa penguatan ekspor CPO didorong oleh membaiknya permintaan global serta pergerakan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor masih memberikan tekanan terhadap permintaan batu bara dan produk besi baja. (Sn)

Scroll to Top