Medan | EGINDO.com – Negara bisa besar bila memiliki pendidik yang baik maka hadir prodi pendidikan, prodi manajemen kehutanan agar setelah pintar maka ada prodi pertanian agar orang bisa makan sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan. Indonesia harus memproduksi pangan sendiri, tidak boleh impor.
Hal itu dikatakan dr. Sofyan Tan pendirian Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka saat peresmian Gedung Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka pada Senin (29/6/2026) di kawasan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal Gang Bakul, Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Akhirnya keberlanjutan itu katanya Universitas ST Bhinneka kini mengembangkan konsep pembangunan berkelanjutan dengan membuka program studi yang saling terintegrasi, mulai dari pendidikan, manajemen hutan, pertanian, hingga bisnis digital. Selain itu, kampus tersebut juga berencana membangun pusat riset pertanian yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional guna mendukung ketahanan pangan nasional dan menghasilkan berbagai inovasi di bidang pertanian.
Dijelaskannya Universitas ST Bhinneka dibangun dengan semangat pendidikan yang multikultural yang terbuka bagi semua kalangan tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial ekonomi dan itu diwujudkannya dalam kerja nyata. Sofyan Tan mengungkapkan perjalanan membangun lembaga pendidikan penuh tantangan.
Hal itu dikisahkannya pernah berniat menjual sekolah karena terlilit utang yang membengkak dari Rp60 juta menjadi Rp1,2 miliar. Namun, dukungan sejumlah pihak, termasuk almarhum Insinyur Sarwono Kusuma Atmaja rekannya Paidi Iskak yang mengagunkan tanahnya, serta sang istri, membuat perjuangan tersebut terus berlanjut.

Diharapkan Sofyan Tan kelak Universitas ST Bhinneka mampu mencetak lulusan yang unggul secara akademik, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta mampu mendorong kemajuan ekonomi bangsa dengan menargetkan universitas tersebut dapat memberikan kontribusi nyata dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, bahkan melahirkan ilmuwan Indonesia yang mampu meraih penghargaan Nobel pada 2040.
Kampus Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka di kawasan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal Gang Bakul, Medan diresmikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto dimana saat peresmian kampus tersebut Menteri Pendidikan Tinggi meminta para rektor mencontoh Universitas ST Bhinneka.
Tidak itu saja akan tetapi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto mengakui terus mengikuti cerita perkembangan perjuangan Sofyan Tan dalam pendidikan. “Menjadi tokoh pendidilan tidak hanya teori dengan analis analis sehingga menjadi tokoh akan tetapi benar benar melakukan perjuangannya sehingga sangat menginspirasi,” katanya.
Menteri Pendidikan Tinggi juga mempertanyakan apakah perjuangan yang menginspirasi dalam pendidikan itu apakah sudah dibukukan atau belum, karena dibukukan tujuannya bukan untuk pamer akan tetapi untuk dapat menginspirasi lahirnya Sofyan Tan, Sofyan Tan lainnya di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kisah tersebut layak menjadi inspirasi bagi para pengelola perguruan tinggi di Indonesia. “Beliau adalah pejuang pendidikan yang tidak hanya pandai berteori, tetapi benar-benar mewujudkannya dalam tindakan. Kisah seperti ini perlu didokumentasikan agar menjadi inspirasi,” katanya
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto mengakui pendidikan Indonesia butuh terobosan-terobosan, karena Indonesia negara berkembang yang tidak mempunyai keluasan fiscal sebesar negara negara yang maju tetapi dengan pendekatan, perjuangan dan kerjasama banyak pihak dalam waktu tiga tahun sebuah perguruan tinggi di Kota Medan bisa menghasilkan karya karya gedung yang sangat luar biasa.
Ia mengaku masih mengingat kunjungannya ke lokasi kampus sekitar setahun lalu saat pembangunan masih berlangsung. Ketika itu, akses masuk ke kampus masih melalui bagian belakang, dan Sofyan Tan menceritakan perjalanan panjangnya membangun pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga akhirnya mendirikan perguruan tinggi.
Dalam kesempatan itu, memuji perjuangan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda, Sofyan Tan, yang dinilainya berhasil mewujudkan cita-cita membangun perguruan tinggi melalui kerja keras dan kolaborasi. Gedung universitas yang rampung dalam waktu sekitar 18 bulan itu bukan sekadar hasil pembangunan fisik, melainkan simbol perjuangan panjang dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Ia bahkan berharap Sofyan Tan dapat berbagi pengalaman kepada para pimpinan perguruan tinggi negeri maupun swasta agar praktik baik tersebut dapat diterapkan di berbagai daerah. Gedung adalah sebuah monumen. Bukan sekadar pencapaian pembangunan gedung, tetapi monumen yang berisi visi besar, perjuangan, pengorbanan, gotong royong, dan kolaborasi untuk memajukan sumber daya manusia Indonesia.
Turut dalam peresmian itu Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, anggota DPR RI Komisi X Denny Cagur, para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di Sumatea Utara, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, serta Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan para donatur, Pemimpin Umum Harian Analisa, Master Supandi Kusuma, perwakilan masing-masing universitas, perusahaan swasta, BUMN dan lainnya.@
Fd/timEGINDO.com