Harga TBS Sawit Riau Naik pada Kamis 25 Juni 2026, Didorong Penguatan Harga CPO dan Kernel

ilustrasi buah sawit
ilustrasi buah sawit

Pekanbaru|EGINDO.co Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau kembali mencatat kenaikan pada pekan ini. Penguatan harga tersebut menjadi kabar positif bagi petani sawit karena berpotensi meningkatkan pendapatan di tengah dinamika pasar komoditas global.

Berdasarkan hasil rapat Tim Penetapan Harga TBS Provinsi Riau yang diumumkan pada Kamis, 25 Juni 2026, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok tanaman kelapa sawit berumur 9 tahun. Harga TBS untuk kategori tersebut naik sebesar Rp11,28 per kilogram atau sekitar 0,31 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Dengan kenaikan tersebut, harga pembelian TBS petani untuk periode 24 hingga 30 Juni 2026 ditetapkan menjadi Rp3.707,61 per kilogram. Angka ini mencerminkan tren positif yang masih berlangsung di sektor perkebunan sawit Riau dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, mengatakan bahwa peningkatan harga TBS tidak terlepas dari membaiknya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta harga inti sawit (kernel) yang menjadi komponen utama dalam perhitungan harga di tingkat petani.

Data tim penetapan harga menunjukkan rata-rata harga CPO berada di kisaran Rp15.263 per kilogram, sementara harga kernel mencapai sekitar Rp12.946 per kilogram. Kenaikan kedua komoditas tersebut memberikan kontribusi langsung terhadap penguatan harga TBS yang diterima petani.

Sejumlah media nasional juga melaporkan tren positif tersebut. ANTARA menyebut kenaikan harga TBS di Riau sejalan dengan membaiknya harga produk turunan sawit di pasar. Sementara InfoSAWIT menilai penguatan harga terjadi karena meningkatnya permintaan serta pergerakan harga CPO yang relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau bersama pelaku industri dan asosiasi petani terus berupaya memperbaiki tata kelola penetapan harga TBS. Langkah tersebut dilakukan untuk menciptakan sistem yang lebih transparan, adil, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.

Perbaikan tata kelola harga dinilai penting mengingat sektor kelapa sawit masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah. Dengan harga yang lebih baik, daya beli masyarakat di sentra perkebunan diharapkan meningkat sehingga turut mendorong aktivitas ekonomi lokal.

Para pelaku usaha memperkirakan prospek harga sawit dalam jangka pendek masih cukup positif selama harga CPO dan kernel tetap bertahan di level saat ini. Meski demikian, mereka tetap mencermati perkembangan pasar global, termasuk kondisi permintaan dari negara-negara importir utama dan kebijakan perdagangan internasional yang dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas sawit ke depan. (Sn)

Scroll to Top