Medan | EGINDO.com – Berbeda dari biasanya suasana di SD Muhammadiyah 09 Medan. Senyum kepala sekolah dan para guru merekah lebih lebar dari biasanya. Sejumlah pengurus Muhammadiyah yang hadir tampak bersemangat menyambut tamu istimewa yang selama ini hanya mereka lihat melalui pemberitaan dan media sosial. D tengah kesibukan menyambut kedatangan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, pada Rabu (24/6/2026) kemarin.
Dihadapan para guru, Sofyan Tan juga membagikan kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Ia bercerita bahwa dirinya lahir dari keluarga miskin. Ayahnya seorang penjahit. Rumah tempat mereka tinggal berdinding tepas, berlantai tanah, dan beratap nipah. Ia tumbuh bersama sembilan saudara lainnya dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. “Saya hampir diberikan kepada orang lain karena kondisi keluarga saat itu sangat miskin,” katanya mengenang.
Saat kecil, ia tinggal di Sunggal, pada masa ketika hampir tidak ada sarjana di daerah tersebut. Namun keterbatasan tidak membuatnya menyerah. “Saya ngotot harus sekolah. Walaupun miskin, saya tetap ingin belajar,” tuturnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya mengantarkannya menjadi seorang dokter, lalu dipercaya menjadi anggota DPR RI yang selama ini dikenal aktif memperjuangkan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Kedekatan Sofyan Tan dengan Muhammadiyah sendiri bukan hal baru. Ia mengaku telah lama berinteraksi dengan organisasi tersebut sejak menjabat sebagai Ketua Presidium Forum Nasional Usaha Kecil Menengah (UKM). Saat itu ia banyak melakukan pembinaan terhadap ibu-ibu Aisyiyah di Kota Medan dan menjalin hubungan baik dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah nasional.
Bagi Sofyan Tan, perhatian terhadap kondisi sekolah bukan sekadar bagian dari tugas sebagai wakil rakyat. Pendidikan, menurutnya, merupakan akar utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang dihadapi bangsa.
Dalam dialog bersama guru dan pengurus Muhammadiyah, ia menyinggung persoalan kriminalitas yang masih terjadi di Kota Medan, termasuk maraknya aksi begal yang kerap meresahkan masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari masalah kemiskinan dan tingginya angka pengangguran. “Kenapa orang membegal, mencuri, dan melakukan tindak kriminal lainnya? Karena miskin. Kenapa miskin? Karena tidak ada pekerjaan. Kenapa tidak ada pekerjaan? Karena orang tidak mau membuka usaha di daerah yang kualitas sumber daya manusianya belum baik. Dan semua itu bermula dari pendidikan yang belum dijadikan prioritas,” ujarnya.
Karena itulah, ia menilai Muhammadiyah selama ini konsisten berada di jalur yang benar dengan menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai fokus utama perjuangan organisasi.“Simbol Muhammadiyah adalah Sang Surya yang menerangi. Artinya menerangi masa depan melalui pendidikan dan kesehatan,” katanya.
SD Muhammadiyah 09 Medan, menjadi perhatian Sofyan Tan terhadap dunia pendidikan juga tercermin melalui dukungannya terhadap beasiswa PIP. Kepala SD Muhammadiyah 09 Medan Rini menyebut sekolahnya menjadi salah satu penerima manfaat program tersebut. Tahun 2026 ini, sebanyak 124 siswa menerima bantuan PIP, jumlah yang menurutnya merupakan yang terbanyak selama sekolah tersebut berdiri. “Dari sekitar 200 siswa kami, hampir semuanya sudah mendapatkan PIP. Kami sangat bersyukur karena perhatian Pak Sofyan Tan kepada sekolah kami begitu besar,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pembina dan Pengawas SD Muhammadiyah 09 Medan Iwan Darmawan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jhon April, Ketua Majelis Dikdasmen dr Wahyu, serta jajaran guru dan pengurus Muhammadiyah setempat.@
Rel/fd/timEGINDO.com