Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah 69 poin atau 0,39% ke level Rp17.928 per dolar Amerika Serikat (AS), sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS yang bertahan di kisaran 101,41. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia, termasuk yen Jepang, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh membaiknya sentimen global setelah pemerintah AS mengeluarkan izin umum selama 60 hari yang memungkinkan aktivitas penjualan, pengiriman, dan impor minyak mentah Iran. Kebijakan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya melanjutkan negosiasi dan menjaga stabilitas pasokan energi dunia, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berbasis dolar.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil evaluasi tahunan MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Lembaga indeks global tersebut sebelumnya menyoroti aspek transparansi kepemilikan saham publik (free float) serta indikasi aktivitas perdagangan yang dinilai terkoordinasi. Hasil evaluasi MSCI dinilai penting karena berpotensi memengaruhi persepsi investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Selain faktor pasar modal, sentimen domestik juga dibayangi oleh kondisi sektor manufaktur yang menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah perusahaan dilaporkan mengalami penurunan produksi, keterlambatan pembayaran gaji, hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap daya saing industri nasional dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.
Sementara itu, media ekonomi nasional melaporkan bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir juga dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia. Faktor-faktor tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.900 per dolar AS, dengan pasar masih menunggu perkembangan lanjutan dari hasil evaluasi MSCI serta dinamika ekonomi global. (Sn)