Jakarta | EGINDO.com – Indah Kiat Pulp & Paper mengoperasikan pabrik baru, akan menjadi dorongan signifikan terhadap kinerja operasional maupun keuangan Indah Kiat. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), emiten Grup Sinarmas, mengoperasikan pabrik baru yang akan menjadi energy besar bagi lompatan kinerja.
Berdasarkan informasi yang dihimpun menyebutkan pabrik baru Indah Kiat (INKP) di Karawang dengan kapasitas produksi 2,4 juta metrik ton (MT) mulai beroperasi pada kuartal I-2026. Pabrik tersebut diperkirakan bakal memberikan dorongan signifikan terhadap kinerja operasional maupun keuangan Indah Kiat.
Selain itu, ada target harga saham INKP untuk dapat dipatok lebih tinggi yakni adanya target harga saham INKP dinaikkan menjadi Rp 11.700 dari sebelumnya Rp 8.700,- Kemudian dimana kondisi harga yang lebih kondusif seiring pasokan yang makin ketat, serta prospek permintaan yang tetap kuat untuk produk kertas kemasan dan kertas tisu berpotensi menjadi tambahan katalis bagi pertumbuhan kinerja emiten berkode saham INKP tersebut.
Data yang ada menunjukkan hingga kuartal I-2026, INKP membukukan kinerja yang solid. Perusahaan kertas tersebut mencetak pertumbuhan pendapatan 4,3% menjadi US$ 816 juta. Ini tak lepas dari stabilnya bisnis bubur kertas (pulp) dan peningkatan kontribusi bisnis kertas. INKP melanjutkan tren penjualan kuat tahun 2025. Per Maret 2026, penjualan pulp naik 8,1% menjadi 2 juta ton dan kertas industri meningkat 10% menjadi 2 juta ton.
Sementara itu laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi INKP pada kuartal I-2026 tumbuh 33,5% menjadi US$ 257 juta. Laba bersih INKP naik 11,4% menjadi US$ 156 juta.
Target harga saham INKP dipatok tinggi sebesar Rp 11.200. Ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 51,3%. Sedangkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi diproyeksikan mencapai US$ 968 juta pada 2026 dan meningkat menjadi US$ 1,09 miliar pada 2027. Kemudian, laba bersih INKP diperkirakan sebesar US$ 521 juta pada 2026 dan bakal melompat menjadi US$ 570 juta pada 2027.
Target harga tersebut diperoleh menggunakan metode discounted cash flow (DCF). Target harga setara dengan estimasi valuasi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi 2026 sebesar 7,8 kali. Namun, risiko utamanya bisa saja terjadi sewaktu-waktu jika terjadi penurunan permintaan pulp global, volatilitas kondisi ekonomi makro, dan ketidakpastian tarif global.@
Bs/fd/timEGINDO.com